Translate

:: KHOTMIL QUR'AN AKAN DILAKSANAKAN PADA TANGGAL 9 MEI 2018 :: MOHON DO'A RESTU SEMOGA LANCAR, BERKAH, MANFAAT ::

Senin, 08 Februari 2010

Shalat Jama'ah

1. Menurut qaul ashah, shalat berjama’ah untuk shalat fardlu selain Sholat Jum’at adalah fardlu kifayah bagi orang laki-laki yang sudah baligh dan merdeka dan bagi orang yang bepergian. Mendirikan shalat jama’ah harus kelihatan syi’arnya.
Peringatan:
a. Shalat-shalat sunah yang sunah dikerjakan dengan berjama’ah, jama’ahnya juga sunah. Demikian juga berjama’ah untuk shalat qadla kalau bentuknya sama.

2. Jama’ah bagi orang laki-laki sekalipun jumlahnya sedikit di masjid lebih utama dari pada shalat jama’ah di selain masjid.

3. Shalat berjama’ah sekalipun tidak bisa khusyu’ masih lebih utama dari pada shalat sendirian dengan khusyu’.

4. Shalat berjama’ah bersama orang banyak lebih utama dari pada bersama orang yang sedikit kecuali apabila imam jama’ah yang banyak melakukan bid’ah atau tidak meyakini kewajibannya sebagian rukun atau syarat shalat.
Demikian juga apabila mengikuti jama’ah yang banyak akan menyebabkan kosongnya masjid.

5. Makruh niat mufaraqah (memisahkan diri) dari jama’ah kalau tanpa udzur dan bisa menghilangkan Fadlilah jama’ah.
Hanya saja wajib segera niat mufaraqah kalau mengetahui imamnya kedatangan perkara yang membatalkan shalat.

6. Fadlilah shalat jama’ah selain Jum’at dapat dihasilkan kalau ma’mum takbiratul ihram dengan sempurna sebelum imam salam.
ingat !
a. Bagi orang yang ketinggalan ruku’ pada raka’at terakhir imam atau sebagian shalatnya, maka sunah membuat jama’ah sendiri sekiranya tidak kehilangan fadlilahnya awal waktu atau waktu ikhtiar.

7. Fadlilah takbirotul ihrom dapat dihasilkan kalau ma’mum mendapatkan takbirotul ihrom imamnya kemudian langsung takbirotul ihrom.
Tanbih !
a. Sunah berjalan biasa dan khusyu’ sekalipun hawatir tidak mendapatkan fadlilah takbirotul ihrom atau jama’ah.
b. Bagi imam atau orang yang shalat sendirian dalam ruku’ atau tasyahud akhir, sunah menunggu tidak terlalu lama orang yang hadir ke tempat jama’ah dengan maksud untuk bermakmum.
c. Kalau iqomah sudah dikumandangkan makruh shalat sunah. Adapun bila sedang shalat sunah kemudian iqomah dikumandangkan supaya shalat sunah disempurnakan sekira tidak ketinggalan jama’ah.

8. Makmum masbuq (makmum yang tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk membaca fatihah bersama imam. Sebaliknya makmum muwafiq) ketika mendapatkan imam dalam ruku’, roka’atnya dianggap kalau bisa sempurna takbirotul ihromnya serta nyata-nyata bisa mengikuti ruku’nya imam dengan thuma’ninah.

Tanbih !
a. Ma’mum masbuk sunah berdiri untuk menyempurnakan shalat ketika imam sudah salam yang kedua. Haram dan batal shalatnya jika setelah imam salam, makmum tetap duduk melebihi waktu yang cukup untuk membaca aqollut tasyahhud (paling sedikitnya tasyahhud) padahal ketika tasyahhud karena mengikuti imam bagi makmum bukan waktunya.

b. Demikian juga batal shalat makmum kalau ia sengaja berdiri tanpa niat mufaroqoh sebelum imam salam. Akan tetapi jika berdirinya karena lupa atau tidak mengerti, ia wajib kembali duduk dan apa yang terlanjur dikerjakan tidak dianggap.

9. Udzur-udzur yang membolehkan meninggalkan jama’ah dan Jum’ah dan tidak menghilangkan fadlilahnya kalau bermaksud mengikuti jama’ah, udzur-udzur syar'i tersebut adalah :
a. Hujan yang membasahi pakaian
b. Angin kencang di malam hari
c. Becek
d. Gempa
e. Samun
f. Panas yang menyengat di waktu dhuhur
g. Cuaca dingin atau gelap
h. Sakit yang memberatkan
i. Hawatir keselamatan badan atau harta atau rusaknya masakan yang masih berada di atas api
j. Takut ditahan orang yang memberi piutang sedangkan ia belum mempu melunasi
k. Menahan hadats
l. Sangat lapar atau haus
m. Sangat ingin makan makanan yang halal yang ada di tempat shalat
n. Tidak memiliki pakaian yang layak
o. Mempersiapkan diri untuk bepergian bersama teman yang sudah berangkat
p. Makan makanan yang berbau tidak sedap yang sulit dihilangkan
q. Bau mulut atau ketiak yang tidak sedap
r. Membersihkan barang-barang yang kotor
s. Belang
t. Lepra
u. Merawat orang sakit
v. Menunggu kerabat yang sedang sekarat atau sakit yang meresahkan
w. Mencari barang hilang
x. Menulak orang yang hendak ghoshob
y. Rasa kantuk yang tidak tertahan
z. Adanya orang yang hendak atau mengganggu di jalan.

10. Syarat-syarat qudwah (bermakmum)
a. Niat ma’mum atau jama’ah bersamaan dengan takbirotul ihrom.

Tanbih !
- Kalau tanpa niat sebagaimana disebut di atas atau ragu dalam niatnya, kemudian mengikuti orang yang sedang shalat dalam pekerjaan shalat atau salam, dalam jangka waktu yang panjang maka batal shalatnya.

- Niat menjadi imam atau jama’ah bagi imam adalah sunah. Dan sah niat menjadi imam ketika takbirotul ihrom sekalipun belum ada orang yang bermakmum. Juga sah niat menjadi imam di tengah-tengah shalat serta dapat menghasilkan fadlilah jama’ah.

- Sedangkan bagi makmum yang niat menjadi makmum di tengah-tengah shalat adalah boleh sekalipun roka’atnya berbeda dengan imam. Hanya saja hal ini makruh dan tidak dapat menghasilkan fadlilah jama’ah. Kemakruhan ini mengecualikan makmum yang niat mufaraqah sebab imam kedatangan perkara yang membatalkan shalat, kemudian makmum masuk pada jama’ah yang lain. Orang yang makmum di tengah-tengah shalatnya wajib mengurutkan pekerjaan-pekerjaan shalatnya sesuai dengan imam.

- Dalam shalat Jum’at niat menjadi imam dan makmum wajib bersamaan dengan takbirotul ihrom.

2. Anggota tubuh yang dijadikan sebagai penyangga tubuh makmum tidak boleh mendahului badan atau barang yang dijadikan penyangga oleh imam.

Maksud penyangga tubuh adalah :
- Dua tumit bagi orang yang berdiri
- Tongkat bagi orang yang memakai tongkat, sedangkan kakinya tergantung
- Pantat bagi orang yang duduk
- Lambung bagi orang yang tidur miring
- Dua pundak bagi orang yang disalib
- Tumit atau kepala (ada dua kaul) bagi orang terlentang

Tanbih !
a. Bagi orang laki-laki kalau sendirian sunah menempat di sebelah kanan imam, mundur sedikit. Orang yang menyusul hadir menempat di sebelah kiri imam. Kemudian bersamaan dengan pekerjaan shalat, kedua makmum mundur dan menempat di belakang imam.

b. Imam sunah membenarkan kekeliruan posisi makmum dengan perbuatan sedikit.
Demikian juga sebelum memulai shalat, imam sunah mengumumkan lurus dan rapatnya shaf (barisan)

c. Makruh menyendiri atau membuat shaf baru sebelum shaf di depannya penuh. Disamping makruh juga menghilangkan fadlilah jama’ah.

d. Sunah jarak antara satu shaf dengan shaf yang berada dibelakangnya tidak melebihi tiga dziro’

e. Urutan shof orang laki-laki yang baligh berada di shof depan, kemudian anak-anak, selanjutnya orang-orang perempuan. Akan tetapi kalau anak-anak datang terlebih dahulu maka tidak boleh dimundurkan sekalipun belum takbirotul ihrom.

3. Mengetahui perpindahan imam, karena mengetahui sendiri atau dengan perantara shof atau mendengar suara imam atau muballigh sekalipun muballigh tidak ikut shalat jama’ah.

Tanbih !
a. Jika tidak dapat lagi mengetahui perpindahan imam (misalnya muballigh pergi) dalam waktu yang cukup untuk mengerjakan dua rukun, maka makmum tersebut wajib niat mufaraqah.

4. Berkumpulnya imam dan makmum dalam satu tempat.
Dengan perincian sebagai berikut :
a. Kalau imam dan makmum berada dalam masjid, maka sah bermakmumnya sekalipun jarak antara keduanya melebihi 300 dziro’.

Tanbih !
a. Kalau di dalam masjid ada bangunan atau lantai atas, disyaratkan untuk sahnya bermakmum adanya pintu atau tangga yang bisa dipakai untuk mendatangi masjid tanpa membelakangi arah qiblat.

b. Kalau imam berada di masjid, sedangkan makmum berada di luar masjid, disyaratkan untuk sahnya bermakmum :
ba. Jarak tempuh antara imam dan makmum tidak melebihi 300 dziro’
bb. Tidak ada hail (sesuatu yang menghalang-halangi) yang mencegah makmum mengetahui atau sampai pada imam tanpa membelakangi arah qiblat.
bc. Adapun selain makmum harus bertempat di hail tersebut. Makmum yang bertempat di hail itu sebagai penyambung dengan imam.

5. Muwafaqah (sesuai dalam perbuatan) imam dan makmum dalam mengerjakan dan meninggalkan sunah-sunah shalat yang kelihatan sangat tidak pantas kalau tidak sesuai, misalnya imam meninggalkan tasyahhud awal serta duduk istirohah atau tidak sujud tilawah, batal kalau makmum mengerjakannya tanpa niat mufaraqah.

6. Tidak terlambat dari imam tanpa udzur sampai mencakup dua rukun fi’li serta berturut-turut, misalnya imam ruku’, I’tidal dan mulai sujud. Batal shalat makmum yang tetap berdiri.
Namun jika ada udzur, keterlambatan makmum dari imam tidak boleh melebihi tiga rukun yang panjang. Misalnya makmum belum selesai fatihah, sedangkan imam sudah berdiri dari sujud atau duduk tasyahud, makmum wajib mengikuti imam pada rukun yang ke empat, artinya wajib mengikuti imam berdiri atau duduk tasyahud. Tidak boleh kemudian ruku’, I’tidal dan sujud sendirian. Dalam keadaan demikian makmum kehilangan raka’at, jadi setelah imam salam wajib menambah raka’at. Al Hasil, kalau makmum tidak menyusul imam pada rukun yang ke empat serta tidak niat mufaraqah maka shalatnya batal.
Udzur yang membolehkan keterlambatan makmum dari imam diantaranya adalah:
Pelannya bacaan lantaran sudah merupakan tabi’at, ingat atau ragu belum membaca fatihah sebelum ruku’nya imam, untuk membaca fatihah makmum menunggu sampai imam selesai membaca fatihah, namun tiba-tiba imam ruku’, tertidur dalam keadaan menetapkan pantatnya.

7. Tidak sengaja mendahului imam, sampai mencakup dua rukun fi’li yang berturut-turut. Juga tidak mendahului dalam rukun qauli takbirotul ihrom atau salam.
Adapun mendahului imam sampai sempurna satu rukun fi’li hukumnya adalah haram.

Tanbih !
a. Mendahului imam sampai dua rukun fi’li lantaran lupa atau tidak mengerti, tidak membatalkan, hanya saja tidak dianggap. Oleh karena itu wajib kembali mengikuti imam.

b. Mendahului imam satu rukun dengan sengaja, sunah kembali mengikuti imam. Namun kalau karena lupa boleh kembali atau terus.

c. Menyertai imam dalam rukun-rukun fi’li atau qauli selain takbirotul ihrom adalah makruh. Oleh karena itu sunahnya makmum memulai perpindahan apabila imam sudah sampai pada rukun yang dipindahi.

Faidah :
Kalau imam berdiri karena lupa bahwa shalatnya sudah sempurna, makmum tidak boleh ikut berdiri sekalipun shalatnya sendiri belum sempurna (masbuq). Hanya saja wajib menunggu imam atau mufaraqah kemudian salam kalau sudah sempurna shalatnya.

Faidah :
Orang-orang yang tidak sah dimakmumi :
a. Tidak sah makmum pada orang yang disangka kuat bahwa shalat imam tersebut batal menurut keyakinan makmum. Adapun jika hanya ragu maka sha bermakmum kepadanya. Seumpama makmum kepada orang yang bermadzhab hanafi yang setelah wudlu menyentuh farji atau membaca Al Fatihah tanpa basmalah.
b. Tidak sah makmum kepada orang yang juga bermakmum kepada orang lain atau orang yang masih diragukan kemakmumannya sekalipun orang tersebut benar-benar sedang menjadi imam.
c. Tidak sah makmumnya orang yang bagus bacaannya (qari’) kepada orang yang rusak bacaannya sekalipun hanya satu huruf (ummi)


Tersusun dari kitab :
I’anatut Thalibin
Tanggal 1 Sya’ban 1396 H.
28 Juli 1976 M.


KH. ZAINAL ABIDIN MUNAWWIR

comments

2 komentar:

  1. tulisan yang amat bagus dan bermanfaat...
    tapi masih ada satu masalah bagi saya..bisakah ustadz membantu saya..
    masalahnya adalah
    bagaimana jika kita telah mengetahui bahwa yang biasa menjadi imam adalah selalu salah dalam fatihahnya..apakah kita tetap mengikutinya, kemudian mufaraqah..atau kita sholat munfarid saja???karena ada yang bilang..katanya kalau si imam selalu salah dalam fatihahnya.kita tidak boleh mengikutinya (bermakmum padanya)walaupun nantinya mufaraqah..mohon jawabannya, sbelum dan sesudahnya saya ucapkan..terima kasih.

    BalasHapus
  2. kalo kesalahan bacaan fatehah imam sampai merubah arti ya harus mufaroqoh... seperti membaca الحمد menjadi الهمد, karena الهمد artinya mati, atau membaca إيّاك dengan إياك tanpa tasydid karena kalo tanpa tasydid maka berarti salah satu nama matahari...  

    BalasHapus