Translate

:: Terima Kasih Atas Kunjungan Anda ::

Senin, 15 Maret 2010

K.H. Moenawwir Krapyak

Pondok Pesantren Munawir Krapyak Jogjakarta telah banyak melahirkan ulama-ulama ahli Qur'an terkemuka. Semula pesantren yang didirikan sekitar tahun 1909 oleh KH. Moenawir hanya dihuni 10 santri , kini pesantren krapyak berkembang pesat dengan jumlah santri yang mencapai ratusan bahkan ribuan. Sosok KH Moenawir atau yang akrab dipanggil Mbah Moenawir merupakan sosok ulama yang oleh Rosululloh saw disebut Sebagai “Keluarga Alloh” atau “Waliyulloh”, karena kemampuannya sebagai ahlul qur’an ( penghapal qur’an dan mengamalkan kandungan alqur’an)

Sejak usia 10 tahun KH. Moenawir telah Hapal Quran 30 Juz dan Beliau gemar sekali menghatamkan Al Quran , beliau dikirim ayahnya KH.Abdul Rosyad untuk belajar kepada seorang Ulama terkemuka di Bangkalan Madura KH.Muhammad Kholil , Bakat kepasihan Mbah Moenawir dalam Pembacaan Alquran memberikan kesan tersendiri dihati Gurunya (KH.Muhammad Kholil ) dan suatu ketika gurunya menyuruh KH Moenawir untuk menjadi imam Sholat sedangkan Gurunya KH Kholil menjadi Mak’mum.

Tahun 1888 Kh Moenawir bermukim di Mekkah dan memperdalam ilmu-ilmu Alquran kurang lebih 25 tahun, kesempatan tersebut Beliau gunakan untuk mempelajari Ilmu Tahfizul quran , qira’at sab’ah dengan Ulama -ulama setempat. Hingga KH Moenawir memperoleh Ijazah Sanad Qira’at yang bersambung ke urutan 35 sampai ke Rosululloh SAW dari Seorang Ulama Mekkah yang termashur Syech Abdul Karim bin Umar Al Badri Addimyati .

KH Moenawir Mampu menghatamkan Alquran hanya dalam Satu rakaat sholat, dan sebagai orang awan mungkin itu Mustahil dilakukan tapi bagi KH. Moenawir itu mampu . Bahkan KH. Moenawir dalam menjaga hapalannya beliau melakukan berbagai Riyadhoh diantaranya khatam Al Qur'an dalam 1 minggu selama 3 tahun, khatam Al Qur'an dalam 3 hari selama 3 tahun, dan khatam Al Qur'an dalam sehari semalam selama 3 tahun dan juga pernah melakukan riyadloh dengan membaca alquran secara terus menerus tanpa berhenti selama 40 hari 40 malam sampai terlihat oleh beberapa murid beliau  bahwa mulut KH. Moenawir terluka dan mengeluarkan darah.
Kedisiplinan KH.Moenawir dalam mengajar Al Quran kepada murid-muridnya sangat ketat bahkan pernah muridnya membaca Surat Al Fatihah sampai dua tahun diulang-ulang karena menurut KH. Moenawir belum tepat bacaannya baik dari segi makhrajnya maupun tajwidnya, maka tak heran bila murid murid beliau menjadi Ulama-ulama yang Hufadz ( hapal Al Qur'an) dan mendirikan Pesantren Tahfizul Qur'an seperti Pon-Pes Yanbu’ul Qur’an Kudus (KH.Arwani Amin) , Pesantren Al Muayyad solo ( KH Ahmad Umar) dll.
Peristiwa menarik pernah dialami oleh murid KH Moenawir, sewaktu beliau disuruh oleh istri Mbah Moenawir untuk meminta sejumlah uang kepada Mbah Moenawir yang akan digunakan sebagai keperluan belanja sehari hari, KH moenawir selalu merogoh sejadahnya dan diserahkan uang tersebut kepada Muridnya, padahal selama ini muruid-muridnya hanya tahu bahwa sepanjang waktu mbah Moenawir hanya duduk saja di serambi masjid sambil mengajar Al Qur'an.
KH.Moenawir wafat sekitar tahun 1942 dan dimakamkan di desa dongkelan di dekat Pondok pesantren.
dari berbagai sumber

0 komentar:

Posting Komentar