Translate

:: KHOTMIL QUR'AN AKAN DILAKSANAKAN PADA TANGGAL 9 MEI 2018 :: MOHON DO'A RESTU SEMOGA LANCAR, BERKAH, MANFAAT ::

Kamis, 22 April 2010

Badaipun Berlalu

Suatu ketika, sebagaimana diriwayatkan Ibn al-Fakihani, Syaikh Musa sedang melakukan perjalanan laut dengan sebuah kapal yang cukup besar. Kapal itu dimanfaatkan banyak orang dengan berbagai tujuan: berdagang, berkelana, menuntut ilmu, atau hanya sekedar menjenguk handai taulan dinegeri seberang. Mereka juga membawa berbagai barang dengan kapal itu. Yang paling banyak bawaannya adalah para pedagang. Mereka membawa hasil buminya ke negeri lain dan pulang dengan membawa barang-barang yang tak ada dinegerinya untuk diperdagangkan. Praktis kapal itu penuh dengan manusia dan barang-barang bawaannya.


Namun tak disangka, saat kapal itu berada ditengah-tengah perjalanan, ditengah luasnya samudera dan berada ribuan mil dari daratan, badai tiba-tiba menghantam. Entah darimana datangnya, seakan muncul dari dasar samudera, sang badai membuat kapal penuh muatan itu terombang-ambing ke segala arah. Mula-mula buritan kapal dihantam dengan keras oleh ombak yang membumbung tinggi, dan saat posisi kapal masih miring, ombak dari arah depan menghantam geladak, sehingga kapal penuh air. Angin bertiup tak kalah kencang, menimbulkan suara menderu-deru menggetarkan jiwa-jiwa diatas kapal malang itu. Halilintar pun menggelegar memekakkan telinga, menambah haru-biru suasana diatas samudera tak bertepi itu.

Penumpang kapal naas itupun panik. Mereka berlarian kesana-kemari tak tentu arah, tak tahu apa yang harus dilakukan. Sementar itu nahkoda kapal dan para ABK tak kalah panik, berusaha menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan dari isi kapal itu. Sebagian menimba air yang mulai membajiri geladak. Sebagian lagi berusaha menurunkan layar agar goncangan terhadap kapal menjadi berkurang. Namun tak sempat hal itu dilakukan, angin kencang menghantamnya keras-keras, membuat layar itu patah dan terlempar ke laut.

Syaikh Musa, sebagai orang yang dianggap alim dan dekat dengan Tuhan, diminati oleh para penumpang kapal untuk berdoa kepada Tuhan. Tapi Syaikh Musa tak tahu apa yang harus dilakukan. Keadaan sudah benar-benar genting. Nasib para penumpang sudah demikian mengkhawatirkan, badai dahsyat itu siap melemparkan mereka satu persatu ke laut, atau bahkan secara bersamaan sekaligus. Dan nahkoda dan ABK kapal itu sudah benar-benar putus asa, tak tahu apa yang harus dilakukan.

Saat situasi sudah demikian kalut, tiba-tiba Syaikh Musa mengalami kantuk yang tak tertahankan. Sesaat kemudian ia tertidur dan bermimpi bertemu Rasulullah saw. Dalam mimpi itu Rasulullah menyuruh beliau untuk membaca shalawat nariyah sebanyak seribu kali, agar badai tak lagi mengamuk. Begitu Rasulullah saw selesai berpesan, Syaikh Musa pun terbangun.

Syaikh Musa yang buta itupun segera menyampaikan pesan Rasulullah saw pada seluruh penumpang kapal.

”Apa mungkin kita akan berhasil, badai sudah demikian menggila,” tukas nahkoda kapal yang telah bertahun-tahun berlayar. Ia memprediksi badai sedahsyat ini sudah tak mungkin ditaklukkan.
”Iya. Rasanya mustahil,” sahut yang lain.

Tapi Syaikh Musa meyakinkan, ”Jika Allah sudah berkehendak, apa yang tidak mungkin dilakukannya?” kata Syaikh Musa.

Maka mulailah mereka membaca shalawat itu. Mereka membaca dengan suara keras, untuk melawan ketakutan dan gelegar halilintar serta deru ombak yang terus menghantam kapal dari berbagai sisi. Mata mereka terpejam, khusyuk dan penuh kepasrahan pada Allah SWT.

Bacaan shalawat itu terus berlanjut, saat belum mencapai angka 1000, saat mereka baru membaca 300 kali, badai berangsur-angsur undur diri. Ombak semakin tenang, dan halilintar tak lagi menggelegar. Lautan yang semula garang berangsur-angsur menampakkan aura kelembutan. Semua terkesima sambil tak lupa memuji kebesaran Allah. Mereka hampir-hampir tak percaya, nyawa yang sudah diujung tanduk dan badai yang telah demikian mengamuk bisa reda seketika. Jika Allah berkehendak, memang tak ada yang mustahil untuk terjadi. Wallahu a’lam.*


dari Buku Rahasia Shalawat Rasulullah saw (M. Syukron Maksum,Ahmad fathoni el-Kaysi)
penerbit : Mutiara Media

0 komentar:

Posting Komentar