Translate

:: Terima Kasih Atas Kunjungan Anda ::

Kamis, 22 April 2010

Bensin Tak Habis-Habis

Habib Rifki, salah satu diantara sekian banyak habaib yang berdomisili di Yogyakarta, suatu ketika menasehati salah satu jamaahnya untuk banyak membaca shalawat sepanjang perjalanan. Mereka hendak menghadiri sebuah majelis Burdah di Solo. Dengan mengendarai sepeda motor masing-masing, mereka pun memulai perjalanan ke salah kota terkemuka di Jawa Tengah itu.


Ketika mereka telah kembali ke Jogja, keanehan pun terjadi. Salah seorang jamaah yang beliau nasehati tadi ternyata mengalami kejadian diluar nalar. Dalam perjalanan pergi dan pulang kembali ke Jogja, ia sama sekali belum mengisi bensin pada sepeda motornya. Padahal saat ia berangkat tadi, bensin dikendaraannya itu sudah tinggal separuh dan ia bermaksud mengisinya di SPBU yang ada di jalan Solo-Jogja.


Namun ia lupa dan hingga ia kembali ke Jogja lagi, jarum penanda jumlah bensin tak bergerak sedikitpun, yang berarti jumlah bensin tak berkurang. Padahal jarak Jogja-Solo sekitar 60 km, jika bola-balik berarti sekitar 120 km. Meski ia mengisi bensin motornya sampai penuh, biasanya ia masih harus mengisi lagi ketika dalam perjalanan pulang. Tapi ini sungguh diluar kebiasaan. Subhanallah.

Ia tak tahu kenapa hal itu bisa terjadi. Mungkin ini salah satu berkah dari shalawat yang ia panjatkan di sepanjang jalan dan di majelis yang ia hadiri tadi. Yang jelas, begitu ia sadar akan jumlah bensin yang tetap utuh, saat ia mengendarai motornya untuk kembali ke rumah, setika itu bensinnya berkurang sebagaimana biasa.

Yang ia juga tak habis pikir adalah, saat ia kembali mencoba melakukan ritual yang sama untuk mendapat anugerah yang sama pula: bensinnya tetap utuh, ternyata semua itu tak terjadi. Pendek kata, kejadian itu hanya sekali saja dan tak pernah berulang kembali.

Tahu kenapa? Karena dalam kejadian pertama ia membaca shalawat untuk Rasulullah saw dengan ikhlas, murni bershalawat pada beliau saw. Namun pada situasi selanjutnya, ada niat duniawi yang menungganginya: agar bensin tak berkurang. Dan disini nilai amal shalawat itu menjadi kehilangan makna, menjadi kering laksana pohon yang ditanam dengan biji yang telah rapuh. Ia tak mungkin tumbuh. Atau jika tumbuh pun, pohon itu tak akan sehat dan kokoh. Wallahu a’lam.



dari Buku Rahasia Shalawat Rasulullah saw (M. Syukron Maksum,Ahmad fathoni el-Kaysi)
penerbit : Mutiara Media

comments

3 komentar:

  1. Alhamdulillah saya pernah ketemu sama habib rifki, malah pernah sowan ke ndalmenya tapi g'pernah ketemu sama beliau ("mau pinjam cangkir untuk acara Maulid bareng habib syeh di UNY, kebetulan saya jadi pelaksananya).oya, saya juga orang cilacap, tepatnya KESUGIHAN. salam kenal dari saya buat admin-nya from Amin (kmnu-uny.blogsport.com)

    BalasHapus
  2. salam kenal kembali... saling mendo'akan mas.. biar sama2 manfa'at dunia akhirat.....amin

    BalasHapus
  3. Salam Hangat.....Buat semua Muhibbin Rosululloh...Yk 17 Juli 12

    BalasHapus