Translate

:: Terima Kasih Atas Kunjungan Anda ::

Selasa, 13 April 2010

Bersahabat Dengan Arwah


KETIKA Imam Al-Gazali ditanya oleh seseorang, kenapa engkau banyak mengutip hadis ahad (tidak populer) di dalam kitab Ihya Ulum al-Din, maka ia menjawab, saya tidak pernah mencantumkan hadis di dalam kitab itu tanpa konfirmasi sebelumnya kepada Rasulullah. Padahal, Rasulullah wafat dalam abad ke-6 sedangkan Al-Gazali wafat dalam abad ke-11.

Cerita yang hampir sama juga dialami oleh Ibn Arabi, ketika ditanya tentang misteri bukunya, Fushush al-Hikam. Katanya, setiap kali membaca buku itu selalu ada saja inspirasi baru yang muncul, meskipun redaksinya sama. Ibn Arabi menjawab, isi buku itu dari Rasulullah, bahkan judulnya pun dari Rasulullah, ketika dalam suatu mimpinya disapa Rasulullah: Khudz hadzal kitab, Fushush al-Hikam (Ambil buku ini, judulnya Bidayatul Mujtahid). Padahal, antara Ibn Arabi dan Al-Gazali hanya terpaut beberapa tahun. Keduanya berbeda waktu kurang lebih enam abad dengan Rasulullah.
Di dalam beberapa kitab Tafsir juga disebutkan sebuah riwayat, ketika Rasulullah meninggal hari Senin dan baru saja dimakamkan pada hari Rabu, tiba-tiba datang seorang Arab pedalaman menanyakan Rasulullah, lalu dijawab, apakah anda tidak tahu kalau Rasulullah baru saja dimakamkan.

Pemuda tadi langsung menangis dengan suara keras. Lalu ia ditegur para sahabat, Hai fulan tidakkah engkau tahu bahwa Rasulullah melarang menangis dengan cara meraung-raung. Pemuda itu menjawab Saya tahu tetapi kalian tidak tahu kalau saya telah melakukan dosa besar dan saya tidak percaya diri Allah SWT akan memaafkan saya, makanya saya datang ke sini karena di dalam QS al-Nisa/4:62: Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.
Ayat ini mendorong saya berjalan kaki tiga hari tiga malam untuk memohon agar Rasulullah memohonkan ampun kepada Allah, tetapi Rasulullah sudah meninggal. Akhirnya pemuda itu terus menangis. Menjelang subuh, salah seorang sahabat penjaga makam Rasulullah didatangi Rasulullah dalam bentuk mimpi dan mengatakan: Hai sahabatku, suruhlah orang itu berhenti menangis karena Allah sudah mengampuni seluruh dosanya. Akhirnya pemuda itu berhenti menangis, karena ia tahu Rasulullah pernah bersabda, Barangsiapa yang memimpikan diriku maka akulah sesungguhnya yang dilihat, karena satu-satunya wajah yang tidak dapat dipalsukan ialah wajahku, kata Rasulullah.
Rasulullah juga menceritakan pengalamannya menjelang mikraj ke langit, terlebih dahulu ia diminta memimpin shalat di Masjid Aqsha yang makmunnya para nabi sebelumnya. Anak-anak saleh (waladun shalih) juga dapat memberikan efek positif dan pertolongan kepada orangtuanya di alam barzah, sebagaimana disebutkan dalam hadis shahih.
Banyak lagi kisah dan riwayat yang menceritakan kepada kita bahwa orang hidup bisa berkomunikasi dengan roh atau arwah. Kalangan sufi apalagi para wali, berkomunikasi dengan arwah adalah sesuatu yang biasa bagi orang yang hati dan jiwanya bersih. Bahkan di antara mereka pernah ada yang mengatakan: Alangkah miskinnya seorang murid kalau guru-gurunya hanya orang-orang hidup. Ini menunjukkan bahwa tipis tebalnya alam gaib itu tergantung seberapa bersih jiwa dan pikiran seseorang. Rasulullah juga pernah mengatakan, sebagaimana dikutip Imam Al-Gazali bahwa: Seandainya bukan karena dosa yang mengotori hati atau juwa seseorang maka mereka bisa menyaksikan para malaikat hiruk pikuk di angkasa.
Cerita dan riwayat tersebut di atas mengisyaratkan kemungkinan seseorang bisa bersahabat dan berkomunikasi dengan arwah (jamak dari roh). Di sinilah pentingnya kita selalu membersihkan jiwa dan pikiran. Orang yang rajin membersihkan diri dengan tobat, shadaqah, dan amal kebajikan, maka akan mendapatkan banyak keajaiban di dalam hidupnya.
(Oleh ; Prof. KH. Nasaruddin umar)

comments

1 komentar:

  1. subhanallah....laa haula wala quwwata illa billah..............

    BalasHapus