Translate

:: Terima Kasih Atas Kunjungan Anda ::

Rabu, 21 April 2010

Rumah Allah

Imam Lapeo, salah seorang tokoh ulama di tanah Sulawesi, merasa bahwa daerah yang menjadi basis dakwahnya sudah selayaknya memiliki sebuah masjid. Ia berkeyakinan demikian karena merupakan pusat kegiatan dan peradaban Islam. Sebagaimana dicontohkan Rasulullah, masjid merupakan tempat agung dimana segala keputusan terkait hukum, ibadah hingga strategi perang tercipta. Dan Imam Lapeo ingin meniru, diharapkan dengan adanya masjid nanti dakwahnya lebih mengena dihati masyarakat.

Maka digagasnyalah pendirian sebuah masjid yang layak untuk ditempati untuk melaksanakan ibadah shalat dan ibadah-ibadah lainnya. Namun Imam Lapeo bukanlah termasuk dalam golongan orang kaya, ia bingung harus darimana dana yang digunakan untuk membangun masjid. Berbagai cara ditempuh, tapi tak membuahkan hasil. Imam Lapeo pun berpikir keras agar rumah Allah impiannya itu segera terwujud.

Maka ia pun berbuat nekad. Didatanginya toko-toko penjual bahan bangunan dan barang-barang yang dibutuhkan untuk mendirikan sebuah masjid. Tentu saja mula-mula maksudnya ditolah mentah-mentah oleh para pemilik toko-toko itu. Sebab ia tak langsung membayar semua barang-barang yang dibutuhkan, namun berhutang terlebih dahulu. Apalagi mereka tahu Imam Lapeo bukan termasuk orang kaya, tentu saja mereka khawatir. Namun berkat kecerdikannya dan memanfaatkan kebesaran namanya, Imam Lapeo berhasil meyakinkan para pemilik toko-toko itu. Tidak mungkin orang sealim Imam Lapeo berbohong, pikir mereka kemudian.

Maka pembangunan masjid pun dimulai. Imam Lapeo mengajak masyarakat untuk bergotong royong. Masyarakat pun antusias dan menjadwal waktu untuk mewujudkan impian memiliki sebuah masjid. Berbulan-bulan mereka bergantian menyelesaikan pembangunan itu, tentu saja tetap dalam pengawasan Imam Lapeo sendiri. Bahkan beliau juga ikut turun tangan membantu warga bekerja pagi dan sore untuk segera menyelesaikannya.

Sekian bulan kemudian, pembangunan masjid itupun selesai. Imam Lapeo dan masyarakat bersuka cita dan mengadakan tasyakuran atas selesainya pembangunan masjid yang mereka idam-idamkan. Sejak saat itu geliat kehidupan keberagamaan masyarakat di daerah itu kian semarak. Segala kegiatan keagamaan dipusatkan di masjid kebanggaan mereka itu.

Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Para pemilik toko bangunan yang dihutangi Imam Lapeo datang menagih karena telah jatuh tempo. Imam Lapeo pun kebingungan.
“Bisakah pembayarannya di undur beberapa saat lagi?” pinta Imam Lapeo.
“Tidak bisa, Imam. Bukankah Imam sendiri yang berjanji hari ini akan melunasi,” seru salah seorang di antara mereka.
“Benar, Imam. Imam bukan termasuk orang yang suka menyalahi janji, kan?” ujar yang lain ikut menyudutkan.

Akhirnya Imam Lapeo tak berkutik. Ia benar-benar terdesak, tak tahu apa yang harus dilakukan. Sedang saat itu ia tak memiliki apapun yang bisa digunakan untuk melunasi hutang-hutang itu.

Imam Lapeo masuk ke kamarnya. Disana ia shalat dua rakaat, membaca shalawat untuk Rasulullah, lalu berdoa:
“Ya Allah, aku berhutang untuk membangun rumah-Mu. Karena itu rumah-Mu, maka Kau-lah yang seharusnya membayarnya, ya Allah. Para penagih hutang telah menunggunya”, tuturnya polos.     

Selesai berdoa, Imam Lapeo kembali menemui para tamunya. Saat itulah tiba-tiba datang seorang pejabat dari Jakarta. Kepada tamu barunya itu Imam Lapeo pun menyampaikan keluh kesahnya.

“Kalau begitu, biar saya saja yang melunasinya, Imam.” kata tamu dari Jakarta itu.
“Sungguh?” Imam Lapeo masih belum percaya.
“Ya. Saya akan lunasi semuanya.”

Imam Lapeo pun sujud syukur seketika itu juga. Ia akhirnya tahu, Allah tak akan mengabaikan hamba-Nya yang sedang dalam kesulitan dalam rangka berjuang di jalan-Nya. Wallahu a’lam.


dari Buku Rahasia Shalawat Rasulullah saw (M. Syukron Maksum,Ahmad fathoni el-Kaysi)
penerbit : Mutiara Media

0 komentar:

Posting Komentar