Translate

:: KHOTMIL QUR'AN AKAN DILAKSANAKAN PADA TANGGAL 9 MEI 2018 :: MOHON DO'A RESTU SEMOGA LANCAR, BERKAH, MANFAAT ::

Sabtu, 08 Mei 2010

Bolehkah Tidak Bermadzhab ?

Banyak orang bertanya-tanya tentang persoalan ini, apalagi dalam era informasi yang semakin terbuka, semua informasi sangat mudah diakses. Sehingga banyak diantara saudara kita yang mempertanyakan tentang keharusan seorang muslim dalam menganut madzhab tertentu, bukankah kita bisa mencari tahu sendiri dan memilihnya dari beribu informasi yang bisa kita dapatkan dengan mudah.

Soal ini harus dikupas satu persatu dan harus dijelaskan secara gamblang karena semakin banyaknya orang (bahkan terkadang seorang tokoh) yang mengatakan bahwa ia tidak menganut satu madzhabpun, tidak syafi’i, tidak hanafi ataupun yang lainnya, sembari berkata, bahwa dia langsung mengambil hukum dari Al Qur’an dan Hadits, karena Qur’an sudah ditafsirkan ke dalam bahasa Indonesia dan Haditspun banyak yang sudah dibahasa Indonesiakan.

Kalaupun sebagian dari mereka ada yang bisa bahasa Arab atau membaca kitab, namun pengetahuannya tidaklah mendalam seperti santri-santri yang belajar lama di pondok-pondok pesantren.

Kita dapat memastikan bahwa orang ini akan ngawur dalam agamanya, tidak memiliki keyakinan yang kuat dalam beragama dan akhirnya bisa tidak beragama sama sekali.

Atau orang ini bohong. Dia mengatakan dengan lidahnya bahwa ia tidak menganut suatu madzhab, tetapi dalam prakteknya ia penganut yang gigih dalam satu madzhab.

Celakanya, madzhab yang diikutinya dengan tanpa sadar itu bukanlah madzhab yang terkenal dalam dunia Islam. Tetapi madzhab yang kadang-kadang hanya dibuat oleh seseorang yang tidak paham agama, dan lebih celaka mengikuti madzhab orientalis, madzhab orang barat kristen yang banyak menulis tentang Islam.

Untuk lebih jelasnya ada beberapa hal yang perlu diketahui :


1. Di Indonesia sekarang ini belum ada Tafsir Al qur’an yang lengkap, yang ada baru terjemah Al Qur’an dan diantara beragam terjemah Al Qur’an tersebut ada perbedaan di sana-sini yang kadang prinsipil. Untuk menggali hukum fiqh dengan menggunakan kitab terjemah tersebut belum bisa, karena Al Qur’an itu mempunyai tafsir-tafsir yang diberikan Nabi Muhammad SAW yang tidak diterangkan dalam terjemah-terjemah Al Qur’an yang ada sekarang ini. Orang yang mengambil hukum langsung dari terjemahan lafadz saja bisa salah dan sesat yang akhirnya bisa menyesatkan orang lain pula. Atau bisa saja terjadi akhirnya orang itu menganut madzhab juga, yaitu madzhab pengarang-pengarang atau penerjemah-penerjemah Al Qur’an tersebut.


2. Terjemahan atau tafsiran hadits yang lengkap dalam bahasa Indonesia belum ada, belum ada tafsiran hadits Bukhori, Muslim dan lain sebagainya. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengambil hukum langsung dalam agama kalau tidak mengerti Hadits.


3. Baik ! seseorang pandai membaca buku-buku agama yang sudah banyak diterbitkan dalam bahasa Indonesia tentang ilmu fiqh yang juga sudah diberi dalil dari Al Qur’an dan Hadits. Kalau baru dengan membaca buku-buku tersebut, lantas sudah mengatakan tidak mau bermadzhab, maka orang ini sudah membohongi diri sendiri. Pada hakikatnya ia sudah menganut madzhab, yaitu madzhabnya pengarang-pengarang buku yang dibacanya itu tanpa disadari, karena pengarang-pengarang buku tersebut telah menafsirkan Al Qur’an dan Hadits menurut pendapatnya dan memakainya sesuai pendapatnya pula.


4. Kalau orang ini mengatakan bahwa dia tidak menganut madzhab sama sekali, sedang ia tidak membaca buku-buku agama dan tidak pernah belajar kepada siapapun, orang inilah yang dikatakan tidak beragama sama sekali.


5. Orang yang katanya tidak menganut madzhab, kadang-kadang dalam fatwanya mengikuti pendapat mujtahid-mujtahid yang dulu juga. Dengan arti tidak ada hal yang baru dan ternyata tanpa disadarinya dia sudah bertaqlid.

0 komentar:

Posting Komentar