Translate

:: Terima Kasih Atas Kunjungan Anda ::

Jumat, 04 Juni 2010

Al Imam An-Nibras Umar bin Abdurrahman Al-Attas


Beliau adalah Al Imam Al ’Alim Al “Allamah Al Wali Al Quthbu Al ‘Arif billah As-Syekh Al Barakah Al Qudwah Al Habib Umar bin Abdurrahman bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman Assegaf Al-Alawi. Beliau mempunyai marga Al-Attas tapi nasab kakek-kakenya dari marga Assegaf. Ibunda beliau bernama Syarifah Muznah binti Muhammad Al-Jufri.


Beliau lahir sekitar tahun 992 H di kota Lisk, sebuah perkampungan dekat kota ‘Inat, sebuah kota wali di wilayah Hadhramaut. Di kota ini pula beliau menghabiskan masa kecilnya dan dibesarkan dibawah asuhan dan didikan ayahanda beliau sendiri Al Habib Abdurrahman bin Aqil Al-Attas. Beliau menyelesaikan pendidikan dasar dibawah bimbingan saudara sepupu Al Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin Salim. Beliau adalah salah satu anak didik pamannya yaitu Al Imam Al Kabir Syekh Abu Bakar bin Salim yang mencintai beliau. Beliau juga diasuh oleh saudara kandungnya sendiri yang bernama Al Habib Aqil bin Abdurrahman.


Ayahanda beliau terkenal bersih hatinya. Masyarakat di negerinya itu sangat hormat kepadanya dan juga sering dimintai do’a, karena terbukti dalam dirinya beberapa karamah, 
sehingga beliau sangat disegani dan dicintai oleh masyarakat di sana.


Sejak kecil Al Habib Umar Al-Attas telah kehilangan penglihatan kedua matanya (tuna netra), namun Allah SWT menggantinya dengan penglihatan hati nurani yang jauh lebih terang dan kecerdasan yang luar biasa serta adh-dhabithu al-qawiyyu (daya ingat yang kuat) sehingga dapat dengan mudah menghafal apa saja yang beliau dengar.


Ayahanda beliau pernah bertanya kepada salah seorang guru Al Habib Umar Al-Attas yang bernama Syekh Al Mu’allim bin Aqil Al-Junaidi Bawazir “Anda sangat sayang kepada Umar, apakah karena dia tuna netra?” Syekh Al Mu’allim menjawab, “Dia tuna netra lahirnya, tetapi terang dan bersinar hati nuraninya.”


Sejak kecil beliau sudah gemar beribadah dan menjaga kebersihan zhahir maupun bathin. Dari tempat beliau di kota Lisk, beliau seringkali keliling ke masjid-masjid di kota Tarim, dan tidak jarang beliau menimba air dari beberapa sumur untuk memenuhi kolam masjid-masjid tertentu.


Al Habib Umar Al-Attas adalah seorang ulama agung dan pemimpin yang arif pada zamannya, sehingga beliau tercatat sebagi da’I besar yang hidup di wilayah Amad saat itu. Namun karena sifat rendah hatinya yang terkenal itu, beliau tidak begitu populer sebagaimana ulama lainnya yang hidup di tempat dan zaman yang sama.


Ketinggian ilmu, akhlak dan tasawuf beliau antara lain dapat dilihat pada kebesaran Al Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad (w. 1132 H) yang merupakan pemilik Ratib Al-Haddad yang pernah menjadi anak didik beliau.


Salah satu bukti kebasaran Al Habib Umar Al-Attas adalah kesaksian Al Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dimana Beliau pernah mengatakan “As-Sayyid Al Habib Umar Al-Attas adalah sosok manusia yang memiliki hati yang tulus, figur kebenaran, seorang hamba yang selalu tekun beribadah kepada Allah SWT dan tidak pernah maksiat kepadaNya dengan mengikuti hawa nafsu dan keinginan dirinya.”


Sebagiamana lazimnya ulama shalihin, Al Habib Umar Al-Attas sejak kecil telah dijaga oleh Allah SWT dari segala apa yang diharamkan. Penglihatan mata zhahir beliau diambil oleh Allah SWT dan diganti dengan penglihatan bathin yang jauh lebih tajam dan berharga, dimana hal ini menjadi salah satu pendorong beliau lebih dekat kepada Allah SWT. Beliau tuna netra tapi tidak buta mata hatinya.


Dalam satu riwayat yang diterima oleh Al Habib Ali bin Hasan Al-Attas dari Al Habib Abu Bakar bin Muhammad Bafaqih Qaydun tentang ciri-ciri beliau, yaitu tidak pendek dan tidak pula tinggi, tampan, berjenggot lebat, berwibawa, dan selalu wangi. Beliau sangat gemar dengan wangi-wangian. Di pinggang kiri beliau ada tumbuh sesuatu seperti mata cincin.


Guru-Gurunya
Al Habib Umar Al-Attas belajar dari semua guru yang pernah belajar dari Al Imam Al Kabir Syekh Abu Bakar bin Salim Shahib ‘Ainat dan dengan putra-putra beliau ssendiri seperti Al Habib Husein, Al Habib Hamid, Al Habib Mudhar. Beliau tidak berguru kepada Al Habib Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi Shahib syi’ib. suatu ketika beliau ditanya “Mengapa Anda tidak datang kepada Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Habsyi?” Beliau menjawab, “Cahaya muka beliau menembus mata, sehingga saya tidak dapat melihatnya.”


Diantara guru beliau adalah Al Habib Muhammad bin Abdurrahman Al-Hadi bin Isa Barakwah As-Samarqandi. Beliau juga sering datang kepada Asy-Syekh Ahmad bin Sahl bin Ishaq yang sangat erat hubungannya dengan Al Habib Abu Bakar bin Abdurrahman bin Muhammad Bafaqih di Qaydun, serta beberapa guru dan Syekh terkenal pada masa itu yang telah Beliau hubungi.


Adapun guru utama beliau adalah Al Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin salim bin Abdullah yang sangat dikagumi dan dihormatinya, sehingga jika nama gur unya itu disebut orang, maka wajah beliau tampak berubah.


Asy-Syekh Ali bin Abdullah Baaras berkata, “Al Habib Umar pernah bercerita, pada suatu hari saya datang kepada Al Habib Husein bin Syekh Abu Bakar, ingin memperoleh dari beliau tentang beberapa cara kaum sufi, waktu itu beliau sedang berada di majelis yang penuh dengan hadirin. Beliau berkata, “Hai Umar, siapa yang tidak mengerti denganisyarat maka tidak akan bermanfaat baginya ucapan atau kalimat, dan siapa yang tidak paham dengan sindiran maka dia tidak paham dengan penjelasan, karena penjelasan menurut mereka kaum sufi hanya akan menambah ketidakjelasan.” Kemudian Al Habib Husein berbicara terus dengan ucapan yang samar-samar yang tidak mudah dipahami oleh orang-orang biasa.


Menerima Thariqah dan Ijazah
Al Habib Umar menerima ajaran thariqah sufi (shufi) dan ijazah sekaligus pakaian khirqah (pakaian sufi) dari guru utama beliau, Al Habib Husein bin Syekh Abu Bakar bin salim yang diterimanya dari ayahandanya dan dari datuknya, Asy-syekh Umar Al-Muhdhar dan yang diterimanya dari ayah dan kakeknya sampai kepada Al Faqih Al Muqaddam. Sedangkan Al Faqih Al Muqaddam dala silsilah spiritual beliau mempunyai dua jalur; pertama dari ayahanda dan sesepuh beliau sendiri sampai kepada Rasulullah SAW, kedua dari Syekh Abu Madyan At-Tilmisani yang akhirnya juga sampai kepada Baginda Rasulullah SAW.


Selain menerima ajaran-ajaran sufi dari para tokoh mulia dari kalangan ‘Alawiyyin, beliau juga menerima talqin (piwulang) La ilaha Illallah, juga beberapa dzikir, diantaranya yang dikenal dengan “Dzikir Tauhid” yang biasa dibaca setelah shalat Ashar dan Shubuh serta dibaca saat berziarah di pusara beliau. Dzikir itu beliau terima dari Syekh Umar bin Isa Barakwah As-Samarqandi yang dimakamkan di daerah Ghurfa Ba’ubbad. Dan Al Habib Umar juga memperoleh mushafahah dari As-Sayyid Muhammad Al-Hadi bin Abdurrahman bin Syihabiddin yang beliau terima juga dari para datuknya secara turun temurun, sebagaimana tertulis dalam kitab Al-Barqah.


Imam Al Hakim meriwayatkan sebuah hadits dari Saddad bin Aus RA, ia berkata, “Kami sedang bersama Nabi SAW, tiba-tiba beliau bersabda, “Angkatlah tanganmu dan ucapkanlah La ilaha Illallah.” Maka kami mengucapkannya. Kemudian beliau berdoa : “Ya Allah, Engkaulah yang mengutusku dan Engkau pula yang menjanjikan sorga bagi kami, sungguh Engkau tidak akan mengikari janji.” Selanjutnya beliau berkata, “Bergembiralah kamu sekalian karena Allah telah mengampuni kamu sekalian.”


Murid-Muridnya
Mereka (murid-murid) yang pernah belajar dari Al Habib Umar Al-Attas, baik yang senantiasa hadir di majelis beliau atau yang mengambil pelajaran ketika beliau berkunjung ke berbagai daerah. Sebagian dari mereka yang dapat kami cantumkan diantaranya putra-putra beliau sendiri, mereka adalah Al Habib Husein, Al Habib Salim dan Al Habib Abdurrahman. Juga saudara beliau Al Habib Aqil, dan para tokoh yang ada di masa itu, baik dari kalangan “Alawiyyin maupun dari golongan lain.


Ada kisah menarik yang diceritakan oleh murid khusus beliau, yaitu Al Habib Isa bin Muhammad Al-Habsyi, pada suatu saat Al Habib Isa mencukur rambut Al Habib Umar Al-Attas, lalu terlintas dalam hati Al Habib Isa bahwa Al Habib Umar Al-Attas memiliki maqam (derajat) yang agung padahal dia tuna netra. Seketika itu beliau mengetahui isi hati Al Habib Isa, lalu beliau berkata “Kalau begitu kamu juga harus buta.” Sejak saat itu Al Habib Isa mengalami buta hingga akhir hayatnya.


Al Habib Umar Al-Attas biasa mengisi waktu-waktu malamnya dengan bermudzakarah dalam ilmu-ilmu yang bermanfaat bersama para muridnya hingga menjelang fajar. Beliau pun sering mengulang-ulang do’a qunut yang biasa di baca waktu shalat Shubuh mulai selepas shalat Isya hingga waktu fajar.


Wira’i dan Khumul
Sifat wara’ atau wira’i yaitu sifat menjauhi segala yang subhat apalagi yang haram. Itulah di antara beberapa sifat mulia yang dimiliki Al Habib Umar Al-Attas. Beliau tidak berkenan menerima hadiah atau pemberian dari penguasa atau sultan, juga menolak makanan atau hadiah dari orang-orang yang melakukan pekerjann riba. Semua pemberian mereka beliau tolak dengan sikap baik dan bijaksana.


Beliau berpakaian sangat sederhana dan serba putih. Hasil tenunan daerah setempat yang terbuat dari benang kapas yang agak kasar dan murah itulah yang selalu beliau kenakan. Beliau tidak pernah mengenakan pakaian berwarna hitam dan celupan. Dan dalam hal makanan beliau tidak memilih-milih, menerima segala apa saja yang dihidangkan untuknya, asalkan makanan dan minuman itu halalan thayyiban. Beliau juga tidak mengambil makanan yang jauh dari tempat duduknya maupun jangkauannya. Kendaraan satu-satunya yang beliau gunakan adalah keledai. Tetapi sering juga beliau berjalan di bawah terik matahari yang panas.


Sabar dan Mulia
Al Habib Umar Al-Attas adalah seorang sufi agung, pejuang ke jalan yang lurus dan benar, pendidik dan pembimbing rohani yang sabar dan berilmu tinggi. Berbudi bahasa luhur dan memiliki sikap lemah lembut terhadap siapapun, juga sebagai pelindung dan pengayom para yatim piatu dan janda serta orang-orang yang lemah. Beliau seorang yang teguh, tawakkal dan tabah dalam menghadapi segala macam ujian hidup, menghadapi fitnah dan gejolak yang timbul pada zamannya. Beliau jarang tidur, bahkan seluruh malam beliau habiskan untuk shalat, berdo’a dan berdzikir serta bermunajat.


Beliau selalu datang memenuhi undangan, walaupun kadang harus dengan susah payah. Dan bila kedatangan tamu, maka beliau bertanya kepada mereka, siapakah gerangan diantara mereka yang lebih tua. Maka yang lebih tua itulah yang didudukkan di sebalah kanannya, sedang yang lebih muda di sebelah kirinya.


Sifat utama beliau adalah rendah hati, lemah lembut dan tidak suka menonjolkan diri. Tidak mengharapkan sesuatu pun kecuali karena Allah semata. Beliau selalu berwajah cerah kepada setiap orang yang bertemu dan berhadapan dengan beliau, sehingga masing-masing mengira bahwa orang itu yang paling akrab dengan beliau. Beliau benar-benar memiliki akhllaq mulia yang sulit diikuti oleh kebanyakan manusia biasa.


Meski begitu beliau tidak lepas menghadapi berbagai macam ujian kesabaran dan ketabahannya dalam menegakkan kebenaran dan mengikuti jejak para pendahulunya yang mulia agar diteladani oleh generasi yang akan datang.


Sebagaimana juga disebutkan oleh Al Habib Ali bin Al-Attas bahwa tiada seorang Nabi atau wali pun yang berkibar panjinya melainkan dia akan menghadapi permusuhan dan kebencian dari orang-orang yang menentangnya. Kedengkian dan iri hati orang-orang yang membenci Al Habib Umar Al-Attas tidak berhenti walaupun sesudah beliau wafat. Hingga ketika akan dibangun qubah di atas makam beliau, diantara pemuka masyarakat yang sudah lama memusuhi beliau menolak dan berkata sinis, “Kenapa untuk keluarga Al-Attas harus dibangun qubah?”


Rendah Hati dan Dermawan
Al Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad bercerita tentang salah satu kepribadian Al Habib Umar Al-Attas, “Beliau ibarat pohon yang tumbuh berkembang di atas lahan rendah hati dan lemah lembut. Maka cabang dan rantingnya pun demikian juga.” “Ketika saya datang berkunjung kepada beliau di Khurazhah, saya benar-benar melihat beliau seorang yang berakhlak mulia dan rendah. Apabila beliau berada di majelisnya maka tidak berbeda dengan orang lain, baik mengenai tempat duduk ataupun pakaiannya.”


Pada sustu malam, Al Habib, Al Habib Umar Al-Attas bertandang ke rumah putranya Al Habib Husein, dan putranya mengira bahwa ayahandanya sudah makan makam di rumah kakaknya Al Habib Salim, maka dia tidak menyediakan makanan. Kemudian beliau bertandang ke rumah Al Habib Salim, tapi sang kakak pun menduga ayahandanya sudah makan malam di rumah adiknya, maka dia pun tidak menyediakan makan malam untuk beliau. Kebetulan ada pelayan keluar membawa roti jagung untuk makanan sapi, maka beliau mengambil sepotong, sambil berkata “Inilah makan malam saya.”


Beliau pun dikenal sangat dermawan. Rumah beliau selalu terbuka untuk para tamu, fakir miskin dan musafir tanpa membeda-bedakan mereka. Masing-masing disambut dan dilayani menurut keperluannya. Beliau berpendapat bahwa memberi makan adalah tugas penting yang mulia. Sungguhpun demikian beliau tidak memaksakan diri dalam menjamu atau menyediakan makanan bagi para tamu. Beliau menghidangkan makanan dan minuman seadanya. Itulah kebiasaan beliau, walaupun tamu itu seorang sultan atau pejabat. Dan meskipun para tamu itu datang di larut malam, beliau tetap menyambutnya dengan baik dan menyuruh anggota keluarga beliau menyediakan makanan dan tempat istirahat.


Wawasan dan Cita-citanya
Al Habib Al-Attas sangat tajam dan luas pemikirannya. Pandai membaca situasi dan membaca firasat apa-apa yang bakal terjadi, intuisi ilahi, sehingga yang meminta petunjuk dan pertimbangan dari beliau tidak pernah kecewa. Deantaranya beliau menyarankan kepada Muhammad Al_Khuraizhi agar belajar Al-Quran, padahal ia sudah lanjut usia. Maka betul setelah ia belajar, Allah SWT memudahkan baginya. Demikian pula saran beliau kepada Muhammad Al-‘Amri An-Nahdi, agar menanam pohon kurma di tempat yang bernama Azabarah. Pada saat itu sebagian temannya menentang dan menakut-nakutinya, karena kezhaliman penguasa waktu itu, tetapi Al Habib Umar Al-Attas terus menganjurkan agar menanamnya. Benar Allah SWT pun memberkati dan melindungi tanaman itu serta terhindar dari segala kekhawatiran.


Demikian juga anjuran beliau kepada Sultan Badar bin Abdullah Al-Katiri, agar jangan memerangi kelompok Zaidiyyah. Tetapi ia tidak mengindahkan anjuran beliau. Hasilnya, ia kalah dalam peperangan melawan kelompok itu dan pasukannya ditundukkan. Dan masih banyak lagi pemikiran dan wawasan beliau yang tidak dapat semuanya kami tulis.


Ungkapan dan Petuah
Ungkapan-ungkapan beliau baik sebagai petuah atau kalam hikmah antara lain :

“Allah akan memberi setiap orang menurut niatnya dan kebersihan hatinya.”


“Lihatlah keadaan dirimu, bila engkau suka saat maut datang menjemput dirimu dalam keadaan demikian, maka pertahankanlah. Bila engkau dalam keadaan tidak disukai saat ajal menjemputmu, maka tinggalkanlah.”

“Tidaklah seorang yang tekun melakukan taat kepada Allah SWT melainkan memperoleh restu dari seorang wali, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat.”


“Di zaman ini, sumber air (rahmat Allah) untuk diminum tidak berkurang, tetapi mereka datang dengan membawa tempat air yang bocor. Melakukan taat dengan memakan barang yang haram bagaikan mengambil air dengan wadah yang berlubang.”


“Barangsiapa mendo’akan orang zhalim (agar mendapat hidayah dan kecukupan) maka dia akan selamat dari kejahatan orang tersebut.”


Pada suatu saat Al Habib Umar Al-Attas melihat sekelompok orang hanyut dalam kemaksiatan hingga melupakan rasa lelah dan kantuk mereka, beliau berkata “Lihatlah mereka yang tidak pernah merasa lelah ataupun kantuk. Begitu pula halnya dengan para ahli ibadah yang melupakan rasa lelah dan kantuk mereka karena kecintaan mereka terhadap ibadah.”
“Al-Khumul Al-Khumul. Ad-Dafn Ad-Dafn !”


Ini merupakan seruan dan ajakan beliau (kepada murid-muridnya) agar selalu menyembunyikan kelebihan-kelebihan yang dimiliki. Tiada lagi sesuatu yang dapat dilakukan kecuali semata-mata karena keikhlasan kepada Allah.


“Sabar akan membawa akibat baik. Sabar menjadi sumber segala kebaikan. Sabar akan diabadikan oleh Allah. Segala puji bagi Allah, apa yang Dia tentukan pasti wujud, dan apa yang Dia takdirkan pasti terjadi.


Apabila sudah masuk waktu shalat, sementara imam masjid masih duduk di tempatnya, maka beliau menyuruhnya pergi untuk adzan, dan tidak dibenarkan tinggal diam di sana dengan berpangku tangan.


“Suka menonjolkan diri dan gemar memperoleh kedudukan di mata orang banyak adalah penyakit yang tidak ada obatnya.”


Ketika beliau menjumpai seseorang yang melakukan bersumpah palsu maka beliau melarangnya sambil mengucapkan, “Engkau bukan penghuni neraka, saya tidak ingin engkau masuk ke dalamnya.”


Ketika putra beliau wafat, dan banyak orang berta’ziyah kepadanya, beliau berkata, “Alangkah entengnya musibah agama bagi kalian. Demi Allah, seandainya saya ketinggalan shalat berjama’ah, tidak seorang pun yang datang berta’ziyah.” Maksud beliau, andaikata beliau ketinggalan shalat berjama’ah maka hal itu lebih berat bagi beliau dari kematian seorang anak.


Dan ketika ada seorang yang berkata kepada beliau, mengapa beliau dan anak-cucu beliau tinggal di negeri terpencil jauh dari kota-kota besar yang terkenal sebagaimana para pendahulu yang saleh, seperti di kota Tarim, Hadhramaut dan lain-lainnya. Beliau menjawab, “Tempat itu menjadi baik karena penghuninya, dan negeri ini kamilah yang akan memperindahnya dan memjadikannya baik.”


Beliau pernah bercakap-cakap dengan beberapa orang sahabatnya yang pernah dianjurkan berdakwah di beberapa tempat. Beliau berkata kepada orang-orang yang hadir, “Bila kamu membaca suatu kitab dan disebut nama Nabi dan engkau seorang diri maka sebutlah keluarga dan sahabat beliau, dan bila engkau di dekat orang banyak dan tidak mungkin menyebutnya, maka mereka pun sudah termasuk karena niatmu.”


Menjelang Wafat
Beberapa isyarat telah menunjukkan bahwa ajal beliau sudah dekat. Diantaranya ketika beliau ditanya usia, beliau menjawab, “Delapan puluh, dan kini sudah sampai waktunya.” Sebagaimana telah dituturkan putra beliau, Al Habib Abdullah.


Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa beliau menyampaikan khutbah shalat Jum’at di kota Nafhun, dan itu merupakan kunjungan terakhir beliau kesana. Diantara isi khutbah itu, beliau memberikan nasehat dan pesan yang mengharukan sebagaimana lazimnya jika beliau berkhutbah. Beliau mengingatkan ummat agar selalu bertaqwa kepada Allah SWT, mematuhi semua perintahNya dan selalu menjauhi semua laranganNya. Beliau menekankan tentang pentingnya shalat dan zakat serta perintah-perintah agama, dan mengingatkan akan Hari Pembalasan yang pasti datang. Dalam mengakhiri khutbahnya, beliau berkata : “Ya Allah, saksikanlah! Karena Engkau sebaik-baik saksi.” Diantara yang hadir waktu itu—konon Syekh Muhammad bin Abdul Qadir Baqais—berkata kepada putra beliau yang bernama Al Habib Husein Al-Attas, “Ayahandamu tampaknya tidak akan hidup lama lagi. Tidakkah engkau dengar apa yang beliau katakan kepada orang banyak tadi?”


Al Habib Isa bin Muhammad Al-Habsyi bercerita, ia pergi sowan kepada beliau di Khuraizhah menjelang wafat beliau. Tapi beliau tidak dijumpainya di sana karena berada di kota Lahrum. Maka ia bersama teman-temannya pun ke sana. Sesampai di sana mereka mendapat kabar bahwa beliau berada di kota Haurah. Mereka pun segera pergi kesana, dan ternyata di sana pun beliau tidak ada. Bahkan mereka memperoleh kabar bahwa beliau sedang berada di kota Sabdeh. Akhirnya mereka pun bergegas menyusul ke sana. Betul, mereka menjumpai beliau di kota itu, sedang berada di sebuah rumah. Keluarlah seseorang menyambut mereka dan berkata, “Al Habib Umar menyuruh agar sabar menunggu sampai ada berita.” Tiba-tiba datang Al Habib Ahmas bin Zein Al-Habsy dari Hauthah, yang langsung diberitahu oleh Al Habib Isa bahwa ia sedang menunggu izin untuk masuk. Tidak lama kemudian datang Al Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad bersama beberapa muridnya. Al Habib Umar Al-Attas yang sangat dinanti itu berkenan keluar dan bercakap-cakap dengan mereka, para tokoh Alawiyyin yang mulia yang nota bene adalah murid-murid beliau sendiri, dengan tanpa hidangan kopi atau tempat duduk sebagaimana lazimnya. Kemudian beliau berkata, “Inilah pertemuan terakhir dengan kalian, yang terakhir di dunia ini. Kita akan bertemu lagi, insya Allah, di sana di bawah naungan rahmatNya.”


Selanjutnya beliau berpesan, “Engkau, hai Abdullah Al-Haddad, pergilah dan jangan sampai menjelang sore hari melainkan sudah tiba di kota Hainan.” Dan diberikannya sepotong pakaian. “Dan engkau, hai Ahmad Al-Habsyi, pergilah dan jangan sampai menjelang sore melainkan engkau sudah berada di Hajran.” Juga diberikannya sepotong pakaian. “Dan engkau, hai Isa, malam ini pergilah ke Khuraizhah.” Mereka semua menuju tempat yang ditunjuk sang guru. Di sepanjang jalan mereka memperoleh kehormatan dan sambutan yang luar biasa dari penduduk negeri yang di lalui dan disinggahi oleh mereka.


Dengan syauq (gelora rindu) yang menyelimuti untuk jiwa dan raga beliau untuk menghadap dan bertemu Allah Rabbul ‘Izzati wal-Jalal, beliau pun tidak merasakan penyakit berat yang dideritanya. Dan sebagaimana dituturkan oleh putra sendiri Al Habib Husein, beliau selalu mengulang-ulang dua bait syair dari qashidah Al Habib Abu Bakar Al-‘Idrus Al-‘Adani, yaitu:


Wajah Kekasihku itulah tujuanku
Aku hadapkan wajahku kepadaNya
Cukup bagiku sebagai tujuan
Dengan penuh tawakkal dan pasrah kepadaNya



Menurutnya, ayahandanya juga mengulang beberapa kali bait syair gubahan Syekh Umar Bamakhramah, yaitu :


Seandainya tiada harapan kepada Allah dan aqidah yang baik
Dan tiada mereka yang menjadi hiasan shaf-shaf di masjid
Aku tidak ingin umurku bertambah
Menghuni kuburan lebih baik dan bermanfaat daripada tinggal bersama mereka yang dengki dan tukang fitnah



Al Habib Husein juga bercerita, apabila penyakit ayahandanya terasa berat, maka beliau berkata, “Sebagian ini memang sakit, sebagiannya hubb (cinta) dan sebagiannya lagi ‘isyq (rindu).” Ini seperti diisyaratkan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Al Imam Ali bin Abi Thalib kw ketika beliau bertanya kepada Rasulullah SAW tentang sunnahnya. Beliau bersabda : “Amal kebaikan itu modalku, cinta adalah prinsipku, sedang rindu sebagai kendaraanku, dzikrullah itu hiburanku, rasa sedih itu kawanku dan ilmu adalah senjataku. Sifat sabar sebagai bekalku, rela adalah harta keuntunganku, zakat adalah pekerjaanku, yakin adalah makananku, benar adalah penolongku, bakti dan taat yang mencukupiku, jihad itu perangku, tegak berdiri di waktu shalat sebagai kegemaranku.”
Menurutnya lagi, “Ayahandaku sering tidak sadarkan diri dalam sakit menjelang wafatnya, namun kalau waktu shalat sudah masuk maka beliau sadar dan ingat kembali.”
Beliau selalu menanyakan salah seorang murid diantara murid-murid lain yang beliau cintai, yaitu Syekh Abbas Abdullah Bahfas, apakah ia sudah datang dari Khuraizhah. Beliau juga berwasiat agar dialah yang memandikan jika beliau wafat. Maka datanglah Syekh Abbas pada malam itu juga, dan bergembiralah hati beliau dengan kedatangannya.
Sebelum beliau menghembuskan nafas terakhir, beliau minta diwudhukan. Maka Syekh Abbas Abdullah Bahfas mewudhukan beliau dengan selalu berdzikir diiringi pula suara dzikir dari orang-orang yang hadir di sekitar beliau.


Beliau wafat pada tengah malam, hari Kamis tanggal 23 Rabius-Tsani 1072 H di rumah beliau sendiri, di kota Nahfhun, dan dimakamkan di Khuraizhah Hadhramaut Yaman sebuah kota pusat pemakaman para waliyullah dan salafush-shalihin. Tidak terhitung jumlah pengiring yang mengantar seorang waliyullah yang mulia dan dihormati itu. Berbagai rombongan berbondong-bondong datang silih berganti ke pusara. Hujan pun turun dengan lebatnya, membawa berkah dan kesuburan bagi daerah-daerah yang gersang. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmatNya kepada beliau, juga kepada kita yang mencintainya. Amin.


Malam sesudah wafat beliau, banyak para ulama shalihin mimpi bertemu dengan beliau, baik yang ada di Tarim, Hadhramaut maupun yang ada di Dau’an dan sekitarnya. Kesemua itu mengisyaratkan betapa tinggi maqam (pangkat) dan kemulian beliau di sisi Allah SWT; di dunia maupun di alam barzakh.




sumber : klik

0 komentar:

Posting Komentar