Translate

:: Terima Kasih Atas Kunjungan Anda ::

Sabtu, 06 November 2010

Ternyata Mbah Maridjan Rois Syuriah NU

Sebagian orang tentu beranggapan sosok Mbah Maridjan sang juru kunci Gunung Merapi adalah penganut kejawen. Namun hal itu kini terpatahkan.  



Siapa sangka pemilik nama asli Mas Penewu Suraksohargo itu adalah penganut agama Islam yang taat. Bahkan, pria kelahiran 1927 silam ini tercatat sebagai Rois Syuriah (Dewan Penasehat-red) Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Desa Umbulharjo.
Hal itu diungkapkan, Ketua Tanfidziah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) KH Mutawakkil. Menurutnya, hingga sang juru kunci ini meninggal masih menjabat sebagai Rois Syuriah.


“Mbah Maridjan juga salah satu Wakil Ketua MWC (Majelis Wakil Cabang) NU Kecamatan Cangkringan,” ungkap Kiai Mutawakkil di kantor PWNU Jatim, Jalan Masjid Akbar Surabaya, Sabtu (6/11/2010).
Selama ini banyak yang beranggapan, Mbah Maridjan penganut Kejawen. Hal itu tentunya dengan alasan kedekatan Mbah Maridjan dengan keraton Yogyakarta. Sebagai seorang abdi dalem, Mbah Maridjan memiliki keteguhan hati yang sangat tinggi. Menurut Kiai Mutawakkil, Mbah Maridjan adalah sosok yang bertanggung jawab kepada tugasnya. Bahkan, katanya, beliau rela mati dalam tugas.
“Insya Allah Mbah Maridjan meninggal dalam keadaan Khusnul Khotimah (akhir yang baik-red), jika ingin menjadi Khusnul Khotimah maka harus menjadi kader NU,” kata Kiai sambil tertawa.
Seperti diberitakan sebelumnya, pada 26 Oktober 2010 lalu terjadi letusan Gunung Merapi yang disertai awan panas setinggi 1,5 kilometer. Gulungan awan panas yang akrab disebut Wedus Gembel ini meluncur melewati kawasan tempat Mbah Maridjan bermukim. Mbah Maridjan ditemukan meninggal dunia dalam posisi sujud di rumahnya.


Sabtu, 6 November 2010 - 18:02 wib

0 komentar:

Posting Komentar