Translate

:: Terima Kasih Atas Kunjungan Anda ::

Senin, 31 Januari 2011

Kang Siang-Malam


Kang Siang-Malam, julukan akrab seorang pemuda kurus kecil yang sehari-harinya menuntut ilmu di sebuah pesantren legendaris di Jawa Tengah. Julukan unik itu disematkan padanya karena sekitar selama 6 tahun dia tak punya pakaian lain kecuali yang melekat di badannya.



Jika bajunya itu kotor, diapun mencucinya lalu menjemurnya di atas dinding kamar mandi yang kebetulan tak beratap. Hal yang membuat pemuda itu terpaksa bertahan di dalam kamar mandi seraya menunggu baju dan sarungnya kering. Karena memang tak punya lagi kecuali itu.


Sehari-hari, untuk menghidupi dirinya, dia dengan sukarela menjadi pembantu teman-temannya dengan jadi buruh liwet nasi. Dengan itu, dia bisa ikut makan gratis. Pernah suatu hari, tak ada apapun yang dimakannya, sampai dia terpaksa makan pangkal pisang untuk mengganjal perutnya, yang membuatnya pingsan tersungkur karena lapar.

Dia pernah bertutur, segala jenis daun pernah dicobanya, dijadikan sayur, kecuali daun bambu karena jika direbus semakin kaku.

Dia benar-benar miskin, sampai mau pulang pun tak bisa. Jadi setiap musim liburan tiba, saat semua santri bersuka cita pulang kampung, Kang siang-malam harus menelan ludah menahan keinginan itu. Pantang baginya berhutang. Akhirnya dia pun sendirian di pondok besar yang kini tiba-tiba sunyi tak berpenghuni.

Kang siang-malam tak pernah merasakan manisnya uang kiriman dari orang tuanya, malah saat berkirim surat minta uang, dia mendapat jawaban pedih dari ayahnya, "kamu sudah usia baligh, aku tak ada kewajiban menghidupimu lagi". Kang siang-malam maklum sebab orang tuanya juga sangat miskin.

Sekali dia punya uang, diberi sama Kyainya. Gembira tak bisa dibayangkan. Akhirnya dia beli Singkong yang dikeringkan, Gaplek, dan dia jemur. Namun baru saja dia tinggal gaplek-nya itu, ternyata gaplek-nya diserbu rombongan bebek. Yang pasti gaplek itu tak bisa lagi dimakan, raib lah kesempatan makan enak yang cuma sekali itu, dan dia hanya bisa menangis melihat gaplek-nya yang malang.

Pernah pula dia menangis pilu sebab dipanggil "pencuri", gara-garanya tiap malam dia ke dapur mencari sisa-sisa kerak nasi untuk dikumpulkan dan dimakan, mengganjal perutnya yang sejak pagi tak terisi.

Meski seperti itu, kesemangatan belajarnya luar biasa, tak ada yang setekun dan segigih Kang siang-malam. Ribuan bait syair dihafalnya di luar kepala, dia bahkan menjadi salah satu pelajar terbaik di masanya. 

Dia menghadapi hidupnya yang pilu itu dengan kesabaran luar biasa, dia selalu ceria, meski dalam hatinya mungkin menyimpan lara. Tak ada satupun dari ribuan santri yang tak mengenalnya, dia menjadi teladan bagi teman-temannya. Kemiskinan sama sekali tak berpengaruh pada daya juang tingginya dalam mencari ilmu.

Perubahan, itu yang dia inginkan. Sebelumnya, dia hanya bocah dekil penggembala kambing dan sapi. Kang siang-malam kecil menerawang, jika dia hanya begini saja, maka kehidupannya tak akan pernah berubah. Akhirnya dia memutuskan untuk berkelana, mencari ilmu, merubah hidup dan masa depannya.

Untuk menghilangkan dahaga ilmunya, kang siang malam nyambi sebagai penjaga koperasi kitab di pesantrennya, dengan itu dia bisa belajar dan baca gratis. Mau beli buku dari mana? Uang buat makan saja tak ada. 

Hingga pada suatu ramadhan, dia berkenalan dengan seseorang dari pesantren lain (tradisi pesantren, jika Ramadhan tiba, terjadi "pertukaran pelajar" antar pesantren untuk tabarrukan di pesantren lain). Kang siang-malam begitu akrab dengan teman barunya tadi.

Ramadhan pun usai, dan Kang siang-malam kembali dengan aktivitasnya lagi. Sampai suatu saat, dia mendengar bahwa teman barunya itu telah berhasil belajar ke Makkah. Kang siang-malam terperangah, dia ternganga, jiwa petualang dalam dirinya mendadak membuncah, dia juga ingin ke Makkah, bagaimana bisa belajar ke sana. Dia sama sekali lupa, bahwa dia teramat sangat miskin.

Akhirnya dia pun mencari jalan, dan dia pun pulang menceritakan keinginannya pada orang tuanya. Namanya orang desa, petani lugu, orang tuanya pun bercerita-cerita perihal keinginan anaknya pada siapa saja. Namun komentar yang didapat oleh orang tuanya, begitu pilu dan menyakitkan hati. 

"Hah? Apa? Ke Mekkah? Orang Mustahiq zakat kayak keluargamu kok ingin ke Mekkah, jangan mimpi!". Kesedihan tak terkira dirasakan orang tua kang siang-malam atas cemoohan itu. Kang siang malam pun juga kelu, kelu sekali mendengar kalimat itu, hatinya tercabik-cabik. Tapi dia sadar, memang dia miskin, tapi keyakinannya kuat, tak ada yang tak mungkin bagi Allah Ta'ala.

Hingga akhirnya nasib berpihak padanya. Suatu hari, seorang Syaikh dari Makkah datang Muhibah dakwah ke Indonesia, dan Kang siang-malam memberanikan diri menemui ulama agung itu, mengutarakan keinginannya. Dan sang Syaikh langsung mengajaknya.

Ya ! Kang Siang-Malam akhirnya benar-benar berangkat ke Makkah, impiannya tersampai, tak ada seorang pun yang tahu, tak juga orang tuanya. Hingga beberapa bulan kemudian, dia berkirim surat pada orang tuanya, mengabarkan bahwa dia telah berada di Makkah. 

Ibunya seketika terduduk lemas di tanah, tak percaya sekaligus haru dan bahagia tak terperi, keluarga semiskin itu, yang hanya makan nasi seminggu sekali, anaknya bisa ada di Makkah, Allahu Akbar, Maha suci Allah, benar-benar mimpi di siang bolong. Entah bagaimana pula wajah orang yang pernah mencemoohnya mendengar kabar itu.

Sejak itu, kehidupan Kang siang-malam berbalik. Allah membalas segala kesabarannya semenjak kecil. Kehidupan barunya penuh madu. Hingga dia pulang kembali ke tanah airnya setelah 10 tahun di tanah suci, menyebarkan ilmu yang didapatnya. Dan kini, Kang siang-malam termasuk salah satu ulama' yang disegani serta diperhitungkan di kabupatennya, dan lebih daripada itu. Kegigihan dan kesabaran serta kesemangatan dan daya juang yang langka, yang seolah sangat mustahil, membuahkan madu kehidupan yang sangat indah... Masya Allah Laa Quwwata illa Billah.

Kang Siang-Malam, dengan keadaannya yang menggiriskan hati itu, mengajarkan pada kita keberanian untuk bermimpi, bercita-cita tinggi dengan keyakinan penuh untuk meraihnya, serta rasa tawakkal, sabar, ridho dan pasrah yang luar biasa pada Allah Ta'ala

Kang Siang-Malam, Lelaki pemilik himmah, kemauan, yang meruntuhkan gegunungan.. Himmatur rijal tahdimul jibal.

comments

1 komentar:

  1. aku menikmati tulisan diatas.sedih hatiku mengapa tak seperti tokoh diatas yg gigih dalam belajar.meski cerita ini tidak sulit untuk diikuti alurnya, namun tetap bagus dari cara penyajiannya, sederhana namun menyentuh. saya kira layak untuk dibaca para santri kisah teladan semacam ini.

    BalasHapus