Translate

:: Terima Kasih Atas Kunjungan Anda ::

Senin, 21 Februari 2011

Nasehat Alala

Nasehat sukses belajar ini disampaikan oleh KH. Hamid Abd Qodir kepada kawan-kawan santri Asrama Taman Santri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, saat sowan ke ndalem beliau di Kediri, pada tanggal 7 ar-Rabi'ul-Awwal 1432 H./10 Februari 2011 M.

Pondok adalah kawah condrodimuko. Pondok adalah tempat menuntut ilmu yang paling pas. Mengapa? Karena orang ngaji dan belajar itu banyak gangguannya. Dan pondok adalah tempat yang paling tepat untuk meminimalisir gangguan-gangguan tersebut. Tidak ada lembaga pendidikan yang lebih tepat dalam mencari ilmu kecuali pondok pesantren. Mengaji atau belajar agama itu memang perkara yang sulit. 

Saya sedari kecil juga sudah belajar ngaji, dan cuma mengaji. Tidak untuk sombong, saya sejak kelas 1 sampai kelas 6 Madrasah Tsanawiyah 6 tahun di Krapyak, selalu juara pertama. Tapi saya rasa, kemampuan saya biasa-biasa. Saya juga kemudian melanjutkan mondok di luar Krapyak. Tapi hasilnya juga begini-begini saja. Apalagi kalau mengaji dengan nyambi kuliah, tentu hasilnya akan biasa-biasa saja, apabila usaha dan kesungguhannya juga biasa-biasa saja.
Usia Anda masih sangat muda. Masih bersih dan murni dari gangguan-gangguan yang tidak terkait dengan belajar. Anda masih memungkinkan belajar lebih banyak, karena Anda memang masih memerlukan banyak hal sebagai bekal hidup Anda. Ada ungkapan:
تَفَقَّهْ قَبْلَ أَنْ تُرْأَسَ
(Perbanyaklah belajar sebelum Anda ditokohkan/dijadikan pimpinan)

Gunakan waktu dan kesempatan sebaik-baiknya. Jangan menunda-nunda, hingga  datang kesempitan dan kesibukan. Kesempatan di pondok pergunakan semampu kalian, karena kesempatan ini tidak akan datang lagi, seperti dikatakan:
لاَ تُؤَخِّرْ عَمَلَ اليَوْمِ إِلَى الغَدِّ
(Janganlah kamu menunda pekerjaan hari ini untuk (dikerjakan pada) esok hari)


Kunci Sukses Belajar
Kunci sukses belajar, caranya saya kira adalah seperti yang diungkapkan dalam syair “alala”:
أَلاَ لاَ تَنَالُ العِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ # سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانِي
ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍ وَبُلْغَةٍ # وَإِرْشَادِ أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ
(Ingatlah, kamu tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara,
yg kesemuanya akan aku beritahukan kepadamu dengan penjelasanku,
yaitu: (1) kecerdasan; (2) semangat; (3) kesabaran; (4) bekal yang cukup;
(5) mengikuti petunjuk guru; dan (6) memerlukan waktu yang lama)

Mengikut syair tersebut, ada enam perkara yang bisa dilakukan agar belajar bisa sukses dan lancar:
1.     Dzaka`in: kecerdasan yang cukup. Syarat ini seperti menjadi modal awal belajar.
2.     Hirshin: semangat dan kemauan yang kuat. Saya melihat santri-santri sekarang kurang punya semangat dan keteguhan dalam belajar. Dulu di Krapyak, saya lihat anak-anak di waktu malam masih banyak yang muthala’ah. Sekarang saya lihat banyak yang sukanya dolan dan bermain ke luar.
3.     Ishtibarin: kesabaran. Belajar juga butuh proses. Keberhasilan belajar juga ditentukan oleh proses belajar yang terus menerus. Kesabaran di sini maksudnya bukan sekedar sabar yang tidak produktif, tapi kesabaran yang dilalui melalui proses yang sifatnya produktif. Umpamanya sabar dalam menghadapi ujian atau sabar ketika membaca ungkapan atau kata-kata yang sulit, yang itu bisa dilalui melalui muthola’ah atau bertanya kepada santri senior dan lain-lain.
4.     Bulghatin: ketersediaan bekal yang cukup. Ini merupakan sesuatu yang sudah jelas. Yang namanya ngaji ya perlu bekal, seperti buku, kitab dan sebagainya.
5.     Irsyadi ustadzin, mengikuti petunjuk guru. Ini syarat yang paling penting sebenarnya. Syarat ini menjadi penting sekarang karena pada masa ini sudah banyak terlihat adanya degradasi penghormatan murid kepada guru di lingkungan pesantren. Masalahnya, kalau di pesantren yang diajarkan etika belajar saja terjadi degradasi penghormatan, apalagi yang belajar di luar pesantren.
6.     Thuli zamani, membutuhkan waktu yang panjang dan tidak sebentar. Oleh karena itu santri sebaiknya jangan terlalu sering pulang. Sebab bagaimanapun hal itu mengganggu belajar. Saya sendiri, selama 4 tahun di Pondok Ploso dan 3 tahun di Banten, tidak pernah pulang.


Unsur Ukhrawi Sebagai Syarat Tambahan
Keenam syarat tersebut memang syarat lahir yang menjadi kunci sukses belajar. Akan tetapi sebenarnya diperlukan satu syarat lagi, yaitu perlunya unsur ukhrawi, yaitu ketaqwaan kepada Allah. Sebab bagaimanapun cerdasnya pelajar, seberapapun kesungguhan belajar diupayakan, kalau tidak dibarengi dengan kebersihan hati dan kedekatan kepada Allah, maka akan sia-sia. Kebersihan dan kedekatan pelajar kepada Allah bahkan dapat membantu mempercepat perolehan ilmu. Allah berfirman (dalam surat al-Baqarah (2): 282):
وَاتَّقُوْا اللهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللهَ
(Dan bertaqwalah kepada Allah, Allah mengajarimu)

Ayat tersebut menyatakan agar kita dekat terlebih dahulu kepada Allah, maka Allah kemudian akan memudahkan ilmu masuk. Ungkapan yang semisal adalah pernyataan Imam Syafi’i rahimahullah:

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي # فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ العِلْمَ نُوْرٌ # وَ نُوْرُ اللهِ لاَ يُهْدَى لِعَاصي
(Aku mengadu tentang buruknya hafalanku kepada Imam Waki’, guruku;
maka beliau memberi saran kepadaku agar meninggalkan maksiat-maksiat;
Beliau juga memberitahu aku bahwa ilmu adalah cahaya;
Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.)

Bagaimana caranya menjaga hati agar senantiasa bersih dan selalu bersemangat? Tentu hal itu tidak mudah. Caranya ya memang harus dengan dipaksa. Sebab kalau menuruti nafsu, semuanya bisa rusak dan tidak karu-karuan. Imam al-Bushiri dalam Qasidah Burdah menyatakan:
وَالنَّفْسُ كَالطِّفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلَى # حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِم
(Nafsu itu seperti anak kecil, yang apabila kamu biarkan,
dia akan tumbuh besar dan dewasa dengan tetap suka menyusui.
Sedang apabila dia kamu sapih, maka ia akan menjadi tersapih)

Caranya ya harus dipaksa. Awake dipaksa untuk senantiasa melakukan kegiatan-kegiatan yang sudah dijadwalkan, baik ngaji, jama’ah atau diskusi-diskusi. Insya Allah semua itu akan menghilangkan keinginan untuk maksiat.


Perjuangan Santri Dalam Menuntut Ilmu
Hal ini memberi pengertian bahwa di samping usaha dan perjuangan agar mendapat ilmu, diperlukan juga doa. Perjuangan dilakukan dengan belajar dan mengikuti jam-jam pelajaran dengan tertib dan sungguh-sungguh. Seperti dikatakan oleh penyair:
اِجْهَدْ وَلاَ تَكْسَلْ وَلاَ تَكُ غَافِلاً # فَنَدَامَةُ العُقْبَى لِمَنْ يَتَكَاسَلُ
(Bersungguh-sungguhlah kamu dan jangan bermalas-malasan,
dan jangan pula kamu menjadi orang yang lengah,
sebab penyesalan di kemudian hari akan berlaku
bagi orang yang bermalas-malasan)

Belajar dengan demikian memerlukan pengorbanan yang sungguh-sungguh. Kemuliaanmu tergantung pada pengorbananmu sendiri, sebagaimana dikatakan:
الأَجْرُ بِقَدْرِ التَّعَبِ
(Hasil itu tergantung usaha)

Lalu bagaimana cara membagi waktunya? Membagi waktu memang sesuatu yang berat dan sulit. Ngaji di pondok saja sudah berat, masih ditambah dengan kuliah dan mengerjakan tugas-tugasnya. Tapi mari kita lihat Nabi Muhammad shallallahu ‘alayh wa sallam. Beliau membagi waktunya menjadi tiga: sepertiga untuk ibadah, sepertiga untuk bekerja dan sepertiga untuk istirahat.

Kuliah sebenarnya tidaklah sesuatu yang berat dan menyibukkan. Bahkan materi-materi kuliah kadang hanyalah untuk menambah-nambah wawasan atau sekedar mengulang materi-materi yang pernah diajarkan di pondok. Kalaupun berat, saya kira Pondok yang menampung mahasiswa juga bijaksana dalam membagi kegiatan-kegiatannya. Artinya, tidak mungkin kegiatannya tabrakan dengan kegiatan di kampus. Jadi tidak mungkin santri terganggu dan dikorbankan. Bahkan sejujurnya banyak alokasi waktu yang terbuang, yang karenanya santri justru terlalu banyak bermain. Jadi terserah kita sebenarnya, bagaimana pinter dalam membagi dan mengatur waktu. 

Bagaimana dengan istiqomah? Istiqomah juga mesti dipaksakan. Sebab kemalasan itu kadang muncul spontan dan tidak terduga. Gangguan-gangguan belajar jangan sampai membuat kita larut. Antara caranya adalah memiliki prioritas dalam kegiatan-kegiatan yang diikuti. Mana yang lebih penting, maka kegiatan itu yang mesti didahulukan.

Sejujurnya menjadi santri itu adalah pekerjaan yang paling enak. Sebab kerjanya cuma ngaji dan tidur, nanti ngaji lagi. Gak perlu mikir duit kiriman, sudah ada yang ngirim. Jadi yang penting sekarang adalah ngaji dan menyelesaikan kuliah saja. Yang lainnya nanti.

Sungguh kasihan orang tua, kalo ada anaknya yang nyantri tetapi tidak amanah dalam menjalankan tugasnya menuntut ilmu. Orang tua membanting tulang mencarikan bekal buat anaknya, tapi anaknya tidak mau prihatin dan tidak mau tahu. Oleh karena itu, sebaiknya santri jangan lupa mendoakan orang tuanya. Sebab ridlo orang tua adalah juga salah satu kunci sukses belajar.

Ada orang yang saking hormatnya kepada orang tua maka ia menjadi wali. Di Kediri ini ada orang kaya raya, namanya Pak Gunadi. Orangnya berpenampilan biasa saja, tapi punya 6 buah pom bensin. Ketika saya bertemu dengannya dalam suatu acara, saya tanya apa rahasia dan kunci suksesnya? Beliau menjawab bahwa kuncinya adalah hormat terhadap orang tua. Dan hal itu antara lain dibuktikannya ketika membuka pom bensin yang terakhir, yang meskipun acara pembukaannya dihadiri oleh para pejabat, termasuk bupati, akan tetapi yang membuka dan menggunting pita peresmiannya adalah ibunya sendiri! Subhanallah.


Trademark Krapyak Adalah Al-Qur`an
Perlu juga diketahui bahwa trademark-nya Krapyak adalah pesantren al-Qur`an, sebagaimana sejak awal pesantren ini didirikan oleh almarhum KH. Muhammad Munawwir. Krapyak tidak bisa dilepaskan dari al-Qur`an. Jadi apapun perkembangan jaman, senang atau tidak senang, image itu sudah terbangun dan tertanam di tengah masyarakat. Hal ini berarti, yang menjadi santri atau alumni Krapyak mestilah orang yang minimal bacaan Qur`annya benar. Jadi jangan lupakan itu.

===========================================================
[Catatan: KH. Abdul Hamid adalah putra ke-7 almarhum KH. Abdul Qodir Munawwir dengan Ibu Ny. Hj. Salimah. Masa kecil beliau dihabiskan di Pondok Krapyak, hingga tamat Madrasah Tsanawiyah 6 tahun. Selanjutnya beliau mondok di PP. Sunan Pandanaran, Sleman; PP. Ploso, Kediri dan PP. Cidahu, Banten. Beliau berhasil menyelesaikan al-Qur`an kepada almarhum KH. Mufid Mas’ud dan menyelesaikan hafalan qira`at sab’ kepada kakak kandungnya sendiri, yaitu KH. Muhammad Najib Abdul Qodir Munawwir. Beliau tidak menempat di Krapyak karena diminta oleh almarhum Bapak KH. Muhammad Mubasysyir Mundzir dan Ibu Ny. Hj. Zuhriyyah Munawwir untuk melanjutkan kepengasuhan PP. Ma’unah Sari Bandar Kidul Kediri. Beliau menikah dengan Ibu Ny. Hj. Lu`luil Maftuhah (Malang) dan memiliki 7 anak. Salah satu karya beliau adalah tafsir Surah al-Fatihah, dalam bahasa Arab, yang diberi judul “al-Ma’unah”.]

0 komentar:

Posting Komentar