Translate

:: KHOTMIL QUR'AN AKAN DILAKSANAKAN PADA TANGGAL 9 MEI 2018 :: MOHON DO'A RESTU SEMOGA LANCAR, BERKAH, MANFAAT ::

Minggu, 08 Mei 2011

Ludah Anak Kecil Pencinta Shalawat

Suatu siang, Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli singgah disebuah desa. Ketika itu waktu dhuhur telah hamper habis, namun beliau tak menjumpai seorang pun yang dapat ia tanyai untuk mendapatkan air wudhu.

Akhirnya, setelah lama mencari kesana-kemari, Syaikh Sulaiman al-Jazuli mendapati sebuah sumur. Ia bergegas untuk mengambil air wudhu, akan tetapi beliau tak mendapati sesuatu pun yang dapat digunakan untuk mengambil air dari sumur tersebut. Tak ada timba yang tersedia disana. Maka ia pun berputar-putar di sekeliling tempat itu untuk mencari sesuatu yang bisa digunakn untuk menimba air.


Dalam pencariannya itu, ia bertemu dengan seorang anak perempuan yang sedang bermain. Usianya kira-kira tujuh tahun.
“Ya Syaikh, siapa anda? Dari tadi anda tampak kebingungan, berputar-putar di sekitar sumur ini?”, tanya anak kecil itu.
“Aku Muhammad bin Sulaiman. Aku mencari timba untuk mengambil air. Waktu dhuhur sudah sempit, sementara aku harus segera mengambil air wudhu guna melaksanakan shalat,” jelas Syaikh Sulaiman al-Jazuli.
“Apakah dengan namamu yang sudah terkenal itu tidak bisa mendapatkan sekadar air wudhu dari dalam sumur?”, tanyanya.
“Baiklah, tunggulah sebentar,” ujarnya kemudian.

Gadis kecil itu bergegas mendekat ke bibir sumur, lalu meniupnya sekali. (Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa gadis kecil itu meludahinya). Maka seketika itu air dari dalam sumur itu mengalir deras dan naik ke atas hingga menyerupai sungai sungai. Syaikh Sulaiman pun takjub, namun ia tak memiliki banyak waktu. Ia harus segera berwudhu untuk kemudian menunaikan shalat dhuhur yang waktunya sudah hampir habis. Padahal ia ingin tahu lebih banyak tentang anak itu, yang segera pulang ke rumah setelah melakukan hal yang membuat Syaikh Sulaiman terkagum-kagum.

Begitu selesai menunaikan shalat dhuhur, Syaikh Sulaiman bergegas mendatangi rumah gadis kecil itu.
 “Siapa itu?”, anak perempuan itu bertanya dari dalam rumah begitu terdengart ada seseorang yang mengetuk pintu.

Maka Syekh berterus terang, “Wahai anak perempuanku, demi Allah dan Kemahaagungan-Nya yang menciptakan kamu, saya mau tanya tentang suatu hal.”
“Aku angkat tangan padamu. Aku bersumpah demi kemahaagungan Allah, aku mohon kamu bersedia menceritakan kepadaku dengan amal apakah engkau memperoleh kedudukan yang demikian tinggi?”, tanya Syaikh Sulaiman.
Gadis kecil itu terdiam, lalu menjawab:
“Kalaulah tidak karena sumpahmu itu wahai Syaikh, tentulah aku tidak akan menceritakannya.”
Syaikh Sulaiman menatapnya penuh perhatian.
“Dengan memperbanyak membaca shalawat untuk orang yang apabila ia berjalan di padang belantara, binatang buas akan mengibas-ibaskan ekornya,” katanya polos.

Setelah peristiwa itu Syaikh Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli r.a menyusun sebuah kitab shalawat: Dalailul Khoirat di kota Fas, sebelum beliau pulang kembali ke desanya di tepi daerah Jazulah. Kitab ini di edit kembali oleh beliau setelah beliau berkhalwat untuk beribadah selama 14 tahun, yaitu pada hari Jum’at, 6 Rabi’ul Awal 862 H, delapan tahun sebelum hari wafatnya, 16 Rabi’ul Awal 870





dari Buku Rahasia Shalawat Rasulullah saw (M. Syukron Maksum,Ahmad fathoni el-Kaysi)
penerbit : Mutiara Media

comments

3 komentar:

  1. allahumma ssholli ala sayidina muhammad wa ala ali sayidina muhammad wasallim

    BalasHapus
  2. Subhanalloh.... Sy bru ndengar slama ini kisahnya.... Pdhal sy org kroya juga, saudara............. Mg brmanfaat tuk qt smua...,aminn

    BalasHapus