Translate

:: KHOTMIL QUR'AN AKAN DILAKSANAKAN PADA TANGGAL 9 MEI 2018 :: MOHON DO'A RESTU SEMOGA LANCAR, BERKAH, MANFAAT ::

Senin, 20 Juni 2011

Budak yang Gigih Belajar

Budak juga manusia yang punya impian dan keinginan dalam hidupnya, namun disisi lain kesadaran bahwa ia bagaikan separuh manusia dan separuh barang yang bisa diperjual belikan selalu teringat dalam fikiran. Hidup seorang budak hanya mengikuti perintah dan suruhan tuannya semakin mempersempit ruang kebebasan dalam berekspresi. Bahkan dalam pandangan orangpun derajat seorang budak sulit untuk naik menjadi orang yang terhormat.


Namun hal ini tidak berlaku bagi budak dari Habasyah yang bekerja pada seorang perempuan di kota Mekah. Nasib telah membawanya menjadi budak belian lengkap dengan seluruh tanggung jawab yang harus dipikulnya sebagai hamba sahaya. Namun kondisi dirinya yang seperti ini tidak membuatnya patah semangat untuk mengukir sesuatu yang lebih berarti.


Dalam kesibukan hariannya yang selalu berada dalam bayang-bayang perintah dan keinginan majikan, ia masih sempat membagi waktunya menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah untuk bekerja menjalankan tugasnya sebagai hamba sahaya. Bagian kedua untuk ibadah mengabdikan diri kepada Allah, Tuhan penciptanya, dan bagian ketiga untuk menuntut ilmu.

Begitulah. Ia jalani hidupnya dengan teratur dengan tiga porsi waktu itu. Di sela-sela pekerjaanya, ia menyempatkan diri menemui sahabat Abu Hurairah r.a, Abdullah Ibnu Zubair r.a, Abdullah Ibnu Abbas r.a dan para sahabat lainnya untuk belajar dan meraup pengetahuan. Dia manfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya tanpa sedikitpun melalaikan kewajibannya sebagai seorang sahaya.

Melihat kegigihan budah Habasyah ini dalam menuntut ilmu, majikannya kemudian memerdekakannya. Setelah itu ia pun mencurahkan seluruh waktunya untuk ilmu dan ibadah. Hingga sampailah suatu ketika Abdullah bin Umar r.a datang ke Mekah untuk melaksanakan umrah. Penduduk Mekah pun mengerumuninya untuk bertanya persoalan-persoalan agama. Ibnu Umar memandangi mereka sambil berkata:”Sungguh aku heran dengan kalian wahai penduduk Mekah.  Kalian mendatangiku untuk bertanya persoalan agama, padahal di tengah-tengah kalian ada ‘Atha bin Abi Rabah”.

Ya. Hamba sahaya dari Habasyah tadi yang bernama ‘Atha bin Abi Rabah kini telah menjadi seorang pemuka ahli fiqih di kota Mekah. Ia menjadi imam dan guru di mesjidil haram, menyampaikan pelajaran dan mengeluarkan fatwa-fatwa untuk berbagai persoalan agama. Namanya hingga kini tetap menjadi rujukan dalam ilmu-ilmu keislaman. Kegigihannya telah membawanya ke derajat sangat mulia yang mungkin tak bisa dicapai oleh raja-raja.

0 komentar:

Posting Komentar