Translate

:: KHOTMIL QUR'AN AKAN DILAKSANAKAN PADA TANGGAL 9 MEI 2018 :: MOHON DO'A RESTU SEMOGA LANCAR, BERKAH, MANFAAT ::

Minggu, 19 Juni 2011

Gara-Gara Anggur Masam

Nuh bin Maryam adalah seorang penguasa dan qadli wilayah Maru (salah satu kota di negara Turkmenistan). Oleh karenanya dia  cukup terkenal dan dihormati di seluruh kota. Bukan itu saja Nuh bin Maryam juga memiliki harta yang berlimpah. Namun dibalik itu semua ada kesedihan yang tersimpan dihatinya. Tak lain dan tak bukan disebabkan oleh putrinya yang belum mendapatkan pasangan hidup. 

Padahal putrinya memiliki paras yang sungguh cantik jelita dan berpendidikan tinggi. Sejumlah petinggi dan orang-orang kaya di kota Maru sudah banyak yang mengajukan lamaran untuk dijadikan istri maupun menantu bagi putra mereka, namun tak satupun lamaran itu yang diterima oleh putri Nuh bin Maryam, walaupun mas kawin yang mewah dan aneka rupa sudah ditawarkan untuk menarik simpatinya.


Tapi tak ada satu pun dari para pelamar itu yang mampu menarik hati dan memenuhi keinginannya. Akibatnya, sang ayah jadi bingung. Tak tahu dengan siapa ia akan menikahkan putri kesayangannya yang cantik dan menawan itu. Sebab, jika dia harus nekat dan memilih salah satu dari orang-orang yang melamar itu, dikhawatirkan bisa menyakiti pelamar-pelamar yang lain.

suatu ketika Nuh bin Maryam menengok kebun anggur yang dimilikinya. Disana dia memanggil Mubarak, yaitu budak India yang dimilinya. Ia oleh Nuh telah diberi kepercayaan penuh untuk menjaga kebun anggur miliknya.

Setelah bertatap muka dengan Mubarak di kebun anggur, Nuh ingin mencicipi buah anggur miliknya dan berkata kepada Nuh, “Tolong ambilkan untukku setangkai anggur!”

”Ya tuan”, Mubarak dengan langkah tunduk memenuhi perintah sang majikan untuk memetik setangkai anggur. Dia memetik setangkai anggur yang menurutnya masak lalu diberikannya setangkai anggur itu kepada majikannnya dan tak lama kemudian Nuh memakannya.

Namun tatkala sang majikan itu mencicipi anggur tersebut, ternyata dirasakan masam sekali. Dia kemudian meminta kepada budaknya itu untuk mengambilkan kembali setangkai anggur. Sang budak pun melangkah, memenuhi perintah sang majikan. Memetik buah anggur yang menurutnya manis dan kemudian memberikannya kepada sang majikan. Namun, Nuh benar-benar dibuat kecewa karena ia mendapati angur itu pun terasa masam.

Setelah beberapa tangkai anggur hasil petikan sang budak terasa masam, ia minta lagi dan lagi. Anehnya, rasanya selalu saja masam. Heran dengan keanehan itu, dia pun bertanya kepada budaknya, “Mengapa engkau hanya memetik dari kebun seluas ini setangkai anggur yang selalu rasanya masam?”

Sang budak pun dengan jujur menjawab, “Hamba tidak tahu Tuan, mana yang manis dan mana pula yang masak.”

Saat mendengar jawaban dari budaknya itu, sang majikan mengelus dada dan seketika mengucapkan kalimat “Subhanallah! Sudah lama engkau kerja di sini kenapa masih juga belum tahu anggur mana yang manis dan anggur mana pula yang rasanya masam?”

Lagi-lagi dengan jujur dan polosnya, budak itu menjawab, “Ini semua adalah hak dan milik Tuan, sementara saya hanya hamba sehingga tiada hak apa pun. Karena itu, hamba belum pernah merasakan setangkai anggur pun dari kebun ini sehingga tidak tahu mana yang masam dan mana pula yang manis.”

Dengan rasa heran, si majikan bertanya, “Lalu, mengapa engkau tidak memakan anggur-anggur di kebun ini?”

Sang budak masih dengan sikap jujur menjawab, “Karena Tuan hanya memerintahkan kepada hamba agar menjaganya semata, tidak memberi perintah untuk memakannya. Tidak sepatutnya jika hamba kemudian harus mengkhianati apa yang telah tuan perintahkan, sementara hamba hanyalah seorang budak!”

Tatkala mendengar pengakuan dari budaknya itu, sang pejabat tuannya itu dibuat terkagum. Ia menaruh hormat karena perilaku, akhlak dan juga keteguhan sang budak dalam menjaga amanah. Dari rasa kagum itulah, kemudian tuannya mendoakan, “Semoga Allah selalu memeliharamu atas sikap amanahmu.”

Kini, sang tuan tidak ragu lagi dan yakin sepenuhnya bahwa budak yang dimilikinya itu bukan hanya laki-laki yang berkepribadian baik, namun juga jujur dan bahkan teguh dalam menjaga amanah yang telah diamanatkan kepadanya. Tidak ada salahnya, jika Nuh kemudian memuji budak tersebut, “Aku kagum kepadamu atas kejujuran dan ketaatanmu dalam menjaga amanah yang telah kuberikan. Maka aku percaya engkau dapat membantu memecahkan masalahku.”

Sang budak menjawab, “Hamba akan patuh dan juga taat selalu pada Tuan, tentunya setelah taat kepada Allah.”

Setelah itu, sang majikan kemudian ingin mengungkapkan apa yang ada di dalam hati yang selama ini menjadi beban dalam pikiran, “Ketahuilah, aku ini mempunyai seorang putri dan banyak orang yang melamarnya, tetapi aku tidak tahu siapa di antara mereka itu yang akan aku terima lamarannya. Tolong beri aku pendapatmu.”

Si budak lalu menjawab santun, “Kita tahu bahwa orang pada masa Jahiliyah mendahulukan kedudukan dan keturunan. Sedangkan orang Yahudi dan Nasrani akan mendahulukan kecantikan dan ketampanan. Sedangkan pada zaman rasulullah, mereka mencari ketakwaan dan kesalehan agama. Pada masa kita sekarang, mereka mengutamakan harta dan kedudukan. Maka tuan memilih mana dari keempat hal ini yang Tuan inginkan?’

Tanpa ragu lagi, tuannya menjawab pendapat budaknya yang berujung bertanyaan itu dengan jawaban, “Aku akan memilih ketaqwaan dan kesalehan agama dan aku tidak ragu lagi ingin menikahkanmu dengan putri kesayanganku karena aku telah menemukan pada dirimu ketaqwaan dan kesalehan agama. Aku telah menyaksikan ketaqwaan dan sikap amanahmu itu di depan mataku!”

Jelas, si budak itu dibuat terkejut dan tak habis mengerti setelah mendengar kata-kata tuannya. Ia lalu bertanya, “Tuanku, hamba hanyalah seorang budak India. Tuan telah membeli hamba dengan uang tuan, lantas bagaimana mungkin tuan sekarang akan menikahkan hamba dengan putri tuan? Bagaimana mungkin pula tuan akan memilih hamba? Bagaimana mungkin pula putri tuan akan bersedia menerima hamba untuk menjadi suaminya?”

Tapi alasan sang petinggi itu untuk menikahkan putrinya dengan sang budak tak bisa ditolak. Lalu, diajaklah sang budak itu berjalan untuk pulang ke rumah guna mengatur segala sesuatu dan persiapan pernikahan.

Saat keduanya tiba di rumah, sang tuan menyampaikan apa yang ada dalam benaknya kepada sang istri. Ia menjelaskan tentang kesan yang ia dapatkan tentang budaknya sehingga kini ia tak ragu lagi untuk memilih sang budak untuk dinikahkan dengan putrinya.

Saat mendengar penjelasan dan keterangan dari sang suami, istri Nuh pun juga tidak keberatan. Sang istri menyetujui dan menyerahkan sepenuhnya keputusan itu pada suaminya. Tapi, sebelumnya ia mengusulkan kepada suaminya, “Sebaiknya putrimu diminta jawabannya lebih dahulu.”

Sang putri kemudian dimintai jawaban dan putri mereka ternyata tidak menolak. Ia menurut, meskipun harus menikah dengan seorang budak. Tidak ada rasa canggung padahal pelamar-pelamarnya selama ini justru telah menawarkan mas kawin berlimpah.

Lalu keduanya dinikahkan dan kedua orangtuanya membekali mereka dengan harta yang cukup melimpah.

Tahun berganti tahun dan dari buah pernikahan itu lalu lahir putra mereka, Abdullah Ibnu Mubarak. Kelak di kemudian hari, Abdullah bin Mubarak ini ternyata menjadi orang penting dalam sejarah Islam. Abdullah selain dikenal sebagai seorang ulama, juga ahli zuhud dan perawi hadits yang cukup ternama.


0 komentar:

Posting Komentar