Translate

:: Terima Kasih Atas Kunjungan Anda ::

Minggu, 19 Juni 2011

Kisah Al Bakhi dan Burung Pincang

Hiduplah di zaman dahulu kala seorang saleh yang bernama al-Balkhi. Ia berteman karib dengan Ibrahim bin Adham seorang sufi yang terkenal sangat zuhud dan terkenal dengan sebutan Abu Ishaq.

Suatu hari, al-Balkhi berangkat ke luar negeri untuk berdagang. Sebelum berangkat, tidak lupa ia berpamitan kepada sahabatnya itu. Namun baru beberapa saat berselang Al Bakhi datang lagi. Sahabatnya menjadi heran, mengapa ia pulang begitu cepat dari yang direncanakannya.



Ibrahim bin Adhampun bertanya kepada al-Balkhi, sahabatnya : “Wahai sahabatku, mengapa engkau pulang begitu cepat?”
jawab al-Balkhi : “Dalam perjalanan aku melihat suatu keanehan, sehingga aku memutuskan untuk kembali lagi dan tidak meneruskan perjalanan”.


“Keanehan? Apakah itu?” tanya Ibrahim bin Adham penasaran.
jawab al-Balkhi menceritakan : “Ketika aku sedang beristirahat di sebuah bangunan yang telah rusak, tak sengaja mataku melihat seekor burung yang pincang dan buta. Setelah kuperhatikan beberapa saat lamanya akupun kemudian bertanya-tanya dalam hati : “Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup dalam kesendirian di reruntuhan puing-puing bangunan yang rusak, matanyapun tidak bisa melihat, bahkan kakinya tak mampu tuk beranjak kemana-mana”.


“Tidak lama kemudian”, lanjut al-Balkhi, “ada seekor burung lain yang dengan susah payah menghampirinya sambil membawa makanan untuknya. Seharian penuh aku terus memperhatikan gerak-gerik burung itu. Ternyata ia tak pernah kekurangan makanan, karena ia berulangkali diberi makanan oleh temannya yang sehat”.


“Lantas apa hubungannya dengan kepulanganmu?” tanya Ibrahim bin Adham yang belum mengerti maksud kepulangan sahabat karibnya itu dengan segera.
“Maka aku pun berkesimpulan”, jawab al-Balkhi seraya bergumam, “bahwa Sang Pemberi Rizki telah memberi rizki yang cukup kepada seekor burung yang pincang lagi buta dan jauh dari teman-temannya. Kalau begitu, Allah Maha Pemberi, tentu akan pula mencukupkan rizkiku sekali pun aku tidak bekerja”. Oleh karena itu, aku pun akhirnya memutuskan untuk segera pulang saat itu juga”.


Mendengar penuturan sahabatnya itu, Ibrahim bin Adham berkata, “wahai al-Balkhi sahabatku, mengapa engkau memiliki pemikiran serendah itu? Mengapa engkau rela mensejajarkan derajatmu dengan seekor burung pincang lagi buta itu? Mengapa kamu mengikhlaskan dirimu sendiri untuk hidup dari belas kasihan dan bantuan orang lain? Mengapa kamu tidak berpikiran sehat untuk mencoba perilaku burung yang satunya lagi? Ia bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan kebutuhan hidup sahabatnya yang memang tidak mampu bekerja? Apakah kamu tidak tahu, bahwa tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah?”


Al-Balkhi pun langsung menyadari kekhilafannya. Ia baru sadar bahwa dirinya salah dalam mengambil pelajaran dari kedua burung tersebut. Saat itu pulalah ia langsung bangkit dan mohon diri kepada Ibrahim bin Adham seraya berkata, “wahai Abu Ishak, ternyata engkaulah guru kami yang baik”. Lalu berangkatlah ia melanjutkan perjalanan dagangnya yang sempat tertunda.

0 komentar:

Posting Komentar