Translate

:: KHOTMIL QUR'AN AKAN DILAKSANAKAN PADA TANGGAL 9 MEI 2018 :: MOHON DO'A RESTU SEMOGA LANCAR, BERKAH, MANFAAT ::

Selasa, 19 Juli 2011

drh. H. Asrul Sani, Budayawan dan Sutradara Film

Pemahaman yang mendalam mengenai tradisi NU, membuat Asrul Sani tetap rileks setiap menghadapi pertemuan dengan para ulama NU ketika mempresentasikan karya seni yang dihasilkan Lesbumi, dimana dia pernah menjadi ketua umumnya menggatikan Usmar Ismail.

Ketika mengadakan preview Film Tauhid, yang baru saja diproduksi, Djamaluddin Malik dan Usmar Ismail lebih senang mengedepankan Asrul Sani, sebab diperkirakan akan banyak muncul kritik. Sebelum film diputar Asrul maju memberikan penjelasan terhadap para Ulama, dan penjelasannya sangat meyakinkan, sehingga tatkala film usai diputar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Asrul sani lahir tanggal 10 Juni 1927 di Pasaman, Sumatra Barat. Ia berasal dari keluarga ningrat. Ayahnya seorang raja adat. Ia seorang dokter hewan alumnus IPB yang tidak pernah membuka praktek sebagai dokter hewan. Ia malah asyik terjun ke dunia sastra, drama panggung, film dan politik. Namun berkat totalitasnya dalam seni peran, namnya tetap dikenang para insan perfilman hingga sekarang.

Dia adalah seorang trio pelopor angkatan ’45 bidang puisi, bersama Chairil Anwar dan Riva’I Apin. Ia juga salah seorang pendiri Akademi Teater nasional Indonesia (ATNI) yang banyak melahirkan dramawan top Indonesia. Tak kurang dari Teguh Karya, Wahyu Sihombing, tatiek W. Malyati, Ismed M. Noor, Slamet Raharjo, dan N. Riantiarno, tidak bisa dilepaskan dari kharisma dan kebesaran Asrul Sani sebagai pendiri ATNI. Ia adalah penulis skenario sekaligus sutradara film yang luar biasa.

Sejak usia muda (13 tahun) Asrul Sani telah hijrah dari sekolah HIS di Pasaman Sumatra Barat ke sekolah SMP Budi Utomo dan Taman Siswa Jakarta. Di sekolah Taman Siswa itulah Asrul Sani duduk sekelas dengan Pramoedya Ananta Toer. Bahkan   Pramoedya  pernah mengakui kecerdasan Asrul Sani, sebagaimana dilukiskan dalam bukunya Nyanyi Sunyi serang Bisu : “ketika Asrul Sani berbicara tentang Heinrich Heine, aku harus membuka kuping dan mulut ternganga-nganga, begitu pula ketika berbicara tentang bahasa dan stilistika sangat fasih dan berlagak aristokrat. Dia membaca dan memiliki pengetahuan yang aku tidak punya”.

Setelah tamat SMA, ia melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, namun kegiatannya di bidang seni semakin tak bisa ditinggalkannya.

Ketika Usmar Ismail membangun Perfini, Asrul juga langsung dilibatkan dalam menulis skenario. Tahun 1951-1952 mendapat beasiswa dari Sticusa untuk studi ke Belanda. Di sana Asrul Sani memperdalam pengetahuan di bidang Drama. Selain Asrul Sani, utusan dari Indonesia yang lain adalah Pramoedya Ananta Toer, Gajus Siagian, Ramadhan K.H.. Aoh K. Hadimadja, dan M. Balfas. Sekembalinya dari Belanda Asrul digandeng oleh Djamaluddin Malik untuk terlibat dalam Persari, di sana Asrul diserahi memimpin bidang penulisan naskah.

Untuk mendalami pengetahuan tentang film, Asrul melanjutkan studi bidang itu di Universitas California, AS. Selain itu juga tetap menejuni teater, sehingga ketika pulang dari AS, ia bersama Usmar Ismail kemudian mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI), dan sekaligus menjadi ketuanya.

Asrul Sani bersama Usmar Ismail, Anas Makruf, dkk, mendirikan Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia), salah satu Banom NU) dan menjadi salah satu ketuanya (1972-1973), menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1976), Ketua Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (1977-1979), Ketua Dewan Harian Film Nasional (1979).

Sebagaimana Djamaluddin Malik dan Usmar Ismail, pada tahun 1966 Asrul Sani juga mendapatkan tugas dari partai NU sebagai wakil rakyat di DPR-GR. Hasil pemilu 1971 membuat dirinya tetap bertahan di kursi DPR sebagai wakil dari NU. Bahkan ketika partai ini dilebur dalam Partai Persatuan Pembangunan, Asrul masih tetap duduk sebagai anggota parlemen dari unsur NU hingga tahun 1982.

Dialah orang yang pernah meminta Prof. KH. Saifuddin Zuhri (tokoh besar NU) untuk menulis sebuah novel alam pesantren dan tentang orang-orang yang hidup dan berbuat sesuatu untuk dan atas nama pesantren. Permintaan itu diterima oleh KH. Saifuddin Zuhri. tak lama kemudian muncullah beberapa buku tulisan KH. Saifuddin Zuhri tentang pesantren.

Asrul Sani wafat tanggal 11 Januari 2004 di Jakarta. PBNU secara resmi mengucapkan belasungkawa atas kematiannya. Dimakamkan di pemakaman umum Karet, Jakarta Pusat.

Ia mendapatkan beberapa bintang penghargaan dari pemerintah Indonesia, diantaranya : Bintang Mahaputra Utama untuk Budayawan.

Ref : klik 

0 komentar:

Posting Komentar