Translate

:: KHOTMIL QUR'AN AKAN DILAKSANAKAN PADA TANGGAL 9 MEI 2018 :: MOHON DO'A RESTU SEMOGA LANCAR, BERKAH, MANFAAT ::

Selasa, 19 Juli 2011

H. Djamaluddin Malik, Konglomerat Perfilman

Di awal tahun 1950-an, belum banyak orang Indonesia yang memiliki mobil pribadi. Apalagi untuk mobil kelas mewah. Hanya ada 2 orang Indonesia yang memiliki satu jenis mobil paling mewah kala itu : Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Djamaluddin Malik, Bos Persari yang juga Bos NU.

Djamaluddin Malik lahir 13 Pebruari 1917. berasal dari Padang, Sumatra Barat. Kulitnya kuning, postur tubuh tegap, agak gemuk, periang, dan mudah tertawa. Ia ringan tangan, mahir berbisnis dan bermain politik. Dikenal sebagai seorang konglomerat yang menguasai perfilman nasional.

Pada tahun 1951 ia mempelopori berdirinya industri perfiman Indonesia dengan gaya Hollywood, namanya NV Persari (Persatuan Artis republik Indonesia). Studio filmnya berlokasi di Polonia, Jatinegara, berada di areal tanah yang sangat luas dan memiliki sarana lengkap, mulai dari tempat latihan, shoting, pertunjukan film dan drama. Dilengkapi pula dengan perumahan para artis.


Gedung ini sering dijadikan tempat pertemuan para seniman dan budayawan. Pertemuan para Ulama NU seringkali juga diadakan di sini. Studio ini sangat produktif menghasilkan film, dengan produksi rata-rata delapan film setahun, sehingga ia tampil sebagai seorang produser film pribumi terbesar saat itu. Sementara itu usaha dagangnya juga terus berkembang pesat.

Ada tiga tokoh NU yang bergerak dalam dunia perfilman dan menjadi tokoh besar didalamnya. Mereka adalah H. Djamaluddin Malik (Produser), H. Usmar Ismail (Produser), dan drh. H. Asrul Sani (sutradara)

Bersama Usmar Ismail (1953) ia membentuk Federasi Produser Film Asia dan menyelenggarakan Festival Film Asia yang pertama. Saat ini FFA berkembang menjadi Festival Film Asia Pasific (FFAP). Mereka berdua pula yang mendirikan Festival Film Indonesia (FFI) yang pertama di Jakarta (1955).

Djamaluddin Malik pernah menjadi Ketua Persatuan Perusahaan Film Indonesia, PPFI (1956-1957). Juga pernah menjadi Ketua Badan Permusyawaratan Kebudayaan Islam (BMKI) tahun 1963 dan Ketua Dewan Film Nasinal (DFN) pada tahun 1969.

Di bidang politik Ia pernah menjadi anggota DPR-GR dari Fraksi NU (1964-1965), anggota MPRS (1965-1969) dan anggota DPA (1969 sampai wafatnya).

Peristiwa politik bersejarah yang pernah diperankan adalah ketika menjadi anggota DPR-GR. Ia bersama Nuddin Lubis membuat petisi menolak pidato pertanggungjawaban Presin Soekarno di hadapan MPRS tahun 1966 (Nawaksara), sehingga Soekarno harus merevisi pidato tersebut. Petisi yang dikenal dengan nama Petisi Djamaluddin Malik itu bertujuan untuk melancarkan pergantian presiden, dari Presiden seumur hidup Soekarno kepada Jenderal Soeharto.

Ia pernah aktif di Gerakan Pemuda Ansor Cabang Gambir, Jakarta, sejak awal tahun 1950. masuk secara resmi ke dalam NU sejak tahun 1952, sekembalinya dari ibadah haji. Namun kesibukannya dalam dunia film tidak ditinggalkannya. Tidak sedikit hasil usahanya itu disalurkan ke NU. Bahkan beberapa pengurus NU daerah menghidupi aktivitas politik dan kebudayaan daerah dengan menjadi distributor film yang dibuatnya bersama Usmar Ismail dan Asrul Sani.

Dalam Konggres Lesbumi pertama di Bandung (1962), ia dikukuhkan sebagai Ketua Umum Lesbumi, dibantu Usmar Ismail sebagai Ketua I dan Asrul sani sebagai Ketua II. Ketika ia terpilih sebagai Ketua II PBNU hasil Muktamar Solo, jabatan Ketua Umum Lesbumi ditinggalkan, kemudian diganti oleh Usmar Ismail. Karena keahliannya di bidang manajemen, ia mendapat tugas berat dari PBNU untuk membenahi manajemn NU agar sesuai dengan manajemen partai Modern.

Selain itu, ada lagi tugas yang tak kalah sulitnya, yaitu inventarisasi dan sertifikasi tanah-tanah wakaf milik NU yang berserakan. Mengingat berpolitik adalah pengabdian baginya, walaupun ia seorang hartawan, tugas berat itu diterimanya dengan sepenuh hati.

Ketika terjadi friksi dalam NU, antara kelompok garis lunak yang dipelopori DR. KH. Idham Chalid dengan kelompok garis keras yang dipelopori HM. Subhan ZE, Djamaluddin Malik yang dikenal sebagai manajer handal berhasil menjembatani keduanya, sehingga konflik tidak merebak menjadi perpecahan, berkat kepiawaian dia dalam menyelesaikan persoalan.

Djamaluddin Malik adalah seorang dermawan yang luar biasa. Pada perigatan Harlah NU ke-40 yang dipusatkan di Stadion Utama senayan Jakarta (1996), Djamaluddin Malik bertindak sebagai ketua umum panitia, sekaligus bos besarnya. Bung Karno turut hadir menyampaikan pidato. Pada saat itulah NU menunjukkan jatidirinya yang luar biasa besar. Seluruh Jakarta benar-benar dikuasai oleh NU. Karena kedermawanannya pula, ia pernah membiayai para peserta kursus  Kader NU se Indonesia di Jakarta (1969).

Ia wafat di Munchen, Jerman Barat, 8 Juni 1970, saat berobat kesana. Ia dianugerahi gelar Bintang Mahaputra Adipradana II oleh pemerintah Indonesia. Jasadnya dimakamkan di TMP Kalibata. Dan pada tahun 1973 dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional.

Sementara dalam dunia film jasanya diukir sebagai nama piala bergilir bagi pemenang Festival Film Asia (FFA) Xvi (1970) dengan sebutan Djamaluddin Malik Award. Sejak tahun 1981, Festifal Film Indonesia (FFI) memberikan piala Dhamaluddin Malik bagi tokoh yang berprestasi dalam pengembangan bidang produksi perfilman.

Ref : klik 

comments

5 komentar:

  1. Pertamax........... :)

    ditunggu kunjungan balik n commentnya...hehehe... :)

    sukses selalu...

    BalasHapus
  2. nice post gan
    menarik nih dan sangat bermanfaat sekali info nya
    di tunggu info selanjutnya, thanks ya

    BalasHapus
  3. terimakasih info nya
    bermanfaat bgt

    BalasHapus
  4. info nya mantap untuk dibaca gan
    terimakasih udah share info nya
    terus berkreasi gan

    BalasHapus
  5. artikel yang bemanfaat,,,menambah wawasan pengetahuan

    BalasHapus