Translate

:: KHOTMIL QUR'AN AKAN DILAKSANAKAN PADA TANGGAL 9 MEI 2018 :: MOHON DO'A RESTU SEMOGA LANCAR, BERKAH, MANFAAT ::

Jumat, 01 Juli 2011

KH. Abdul Chalim

Dikisahkan suatu ketika ia sedang menaiki sepeda, bersantai-santai di jalan. Tanpa tahu dari mana datangnya, tiba-tiba sebuah bus melaju kencang menuju ke arah dirinya. Tidak ada kesempatan menghindar lagi baginya. Sekonyong-konyong mobil itu melindasnya tanpa ampun lagi. Wus…! Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu langsung menjerit-jerit !!!

Namun aneh jasadnya tidak diketemukan. Di saat bus itu berhenti, barulah Kiai Chalim berdiri didepannya. Dia baru saja turun dari atap bus. Rupanya di saat bus itu menyantap dirinya dengan cepat, secepat kilat dia langsung bersalto ke atas bus hingga terhindar dari maut. Reflek. 


Kiai Abdul Chalim lahir tahun 1898 di Leuwimunding, Majalengka Jawa Barat. Putra seorang Kepala Desa bernama Kedung wangsagama yang disegani di daerahnya.

Dia menamatkan sekolah HIS di Cerobon, lalu melanjutkan pendidikannya ke beberapa Pesantren di daerah Cirebon dan Sekitarnya. Ia menguasai Bahasa Belanda dan Bahasa Arab dengan baik. Kemudian melanjutkan pendidikannya di Makkah dan bermukim disana selama 3 tahun. Di Kota Suci itulah dia berkawan baik dengan KH. A Wahab Hasbullah, yang kelak menjadi Katib Aam PBNU periode pertama. Kedekatan itu bukan hanya berkaitan dengan ilmu yang mereka gali, tapi juga sebab keduanya memiliki hobi yang sama : sama-sama pendekar silat !

Sekitar tahun 1922 ia berangkat ke Surabaya untuk menemui karibnya itu. Dari Leuwimunding ke Surabaya ditempuh dengan berjalan kaki selama sebelas hari hanya dengan makan kunir. Di Surabaya dia langsung lengket dengan Kiai Wahab. Apapun yang dilakukan Kiai Wahab tidak terlepas dari Kiai Chalim. Dalam mendirikan sekolah-sekolah, forum-forum diskusi dan beberapa aktivitas yang lain, mereka melakukannya berdua.

Puncak dari kedekatan hubungan itu terlihat ketika NU pertama kali didirikan 31 Januari 1926. KH. A. Wahab Hasbullah menjabat Katib Awal, sedangkan KH. Abdul Chalim menjabat Katib Tsani. Dalam setiap mengundang para ulama se-Jawa dan Madura, biasanya Kiai Chalimlah yang bertugas mengantarkan surat undangan itu ke rumah para ulama satu persatu. Sampai para kiai mengenal dengan baik sosok Kiai Chalim, begitu pula sebaliknya.

Ketika Hizbullah berdiri tahun1994, KH. Abdul Chalim adalah salah satu penasehat nasionalnya. Pada masa perang kemerdekaan, hidupnya lebih banyak di hutan dan gunung-gunung untuk perang gerilya mengusir penjajah. Semasa pemerintahan sementara, ia menjabat anggota MPRS sampai berdiri pemerintahan definitif.

Kiai Chalim wafat pada tahun 1972, dimakamkan di samping musholla dan madrasah yang didirikannya di Leuwimunding, Majalengka Cirebon.

Ref : Buku Antologi NU

0 komentar:

Posting Komentar