Translate

:: KHOTMIL QUR'AN AKAN DILAKSANAKAN PADA TANGGAL 9 MEI 2018 :: MOHON DO'A RESTU SEMOGA LANCAR, BERKAH, MANFAAT ::

Sabtu, 02 Juli 2011

KH. Ali Maksum (Guru Sejati)

Lazimnya di pesantren salaf, bila sang guru mengajar putra kiai lain, ia akan memperlakukannya dengan istimewa, karena hormat pada orang tuanya. Tapi beda dengan seorang kiai yang mengasuh Pesantren Krapyak. Beberapa putra kiai yang sedang belajar di pesantren itu justru diperlakukannya dengan keras. Waktu belajar sangat ketat, dari subuh hingga jam sembilan malam.

Mereka tidak bisa belajar dengan seenaknya, karena banyak kewajiban yang harus selalu dipenuhi. Pelajaran yang sudah lewat harus benar-benar dipahami dengan baik. Kapan saja mereka harus bisa menjawab pertanyaan guru yang kadang datang secara tiba-tiba, atau menjelaskannya jika diminta.




Setiap hari mereka juga harus hafal bait-bait kitab tertentu. Kalau tidak bisa, sang guru akan menghukumnya dengan berdii sampai bisa. Jika sudah lama berdiri tapi belum juga bisa, sang guru tidak segan-segan akan mengikat mereka ke kursi atau meja.

Inilah potret betapa kerasnya Kiai Ali Maksum mempersiapkan generasi muda NU di pondoknya.

Kiai Ali Maksum lahir tanggal 15 Maret 1915 di Lasem, Rembang Jawa Tengah. Putra sulung KH. Maksum, pendiri Pondok Pesantren Al-Hidayah Lasem, yang juga salah seorang kiai pendiri NU. Beliau kemudian menjadi menantu KH. Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak, selatan Kraton Yogyakarta. Sejak Kiai Munawwir wafat, Kiai Ali Maksum yang menjadi penggantinya.

Sejak kecil belajar dipesantren ayahnya sendiri, Pesantren Al-Hidayah Lasem, yang saat itu menjadi pusat rujukan para santri dari berbagai daerah. Lalu belajar pada Kiai Amir di Pekalongan, dan melanjutkan ke Pesantren Tremas, Pacitan, Asuhan KH. Dimyati. Di sana beliau tinggal selama 8 tahun. Kemudian menetap di Makkah selama 2 tahun untuk memperdalam ilmunya kepada sayyid Alwy Al-Maliky dan Syekh Umar Hamdan. Beliau akhirnya terkenal bisa menguasai Bahasa Arab dan sastranya dengan sangat baik.

Tahun 1970-an menjabat Rais ‘Syuriah PWNU Yogyakarta. Lewat Munas (Musyawarah Nasional) Alim Ulama dan Konbes (Konperensi Besar) NU tanggal 30 Agustus hingga 3 September 1981 di Kaliurang Yogyakarta beliau terpilih sebagai Rais Aam PBNU untuk mengisi jabatan yang sudah hampir setahun dibiarkan kosong sejak wafatnya KH. Bisri Syansuri.

Sesaat setelah terpilih menjadi Rais Aam, beliau langsung menangis sedih. Di sela isak tangisnya beliau mengatakan bahwa dirinya merasa sangat berat menerima jabatan tersebut, dikarenakan merasa kurang mampu mengisi kedudukan tertinggi dalam jam’iyyah NU yang penuh tanggung jawab itu. Kalimat itu diucapkan dalam Bahasa Arab yang sangat Indah. Tak lupa beliau mengutip ucapan Sahabat Abu Bakar ra. : “inni qod wullitu alaikum walastu bi khairikum, idza raaitum fiyya i’wijajan fa qawwimuni wa’ziluni wathrahuni fi al-mazbalah” (sesungguhnya aku telah diberi kepercayaan atas kalian, padahal aku bukanlah yang terbaik dari kalian. Oleh karena itu, jika kalian melihatku melenceng, maka luruskanlah aku, hindarkan aku dari kesalahan, dan tegurlah aku sampai ke tempat yang baik).

Semula beliau berkeberatan ketika diangkat sebagai Rais Aam, dengan alasan masih banyak ulama yang lebih alim dari dirinya. Kalaupun pada akhirnya beliau mau menerima jabatan rais ‘Aam , itu karena setelah dirayu oleh DR. KH. Idham Khalid, Ketua Umum PBNU saat itu.

Memang kepribadian beliau selalu sarat dengan kesederhanaan dan berpembawaan tenang. Tidak ingin menonjolkan diri. Tapi dibalik kesederhanaan itu, beliau seringkali bisa mengatasi persoalan yang terjadi di NU dengan pemikiran jernih. Termasuk ketika terjadi konflik di tingkat elit NU menjelang pelaksanaan Munas dan Konbes tersebut. Beliau bisa diterima oleh kedua belah pihak.

Dalam khutbah iftitah Munas dan Konbes, beliau sempat menyinggung perlunya diberikan peluang regenerasi serta pemulihan kedudukan ulama sebagai pemegang kendali di NU yang dirasa semakin melemah di depan politisi. Sejak itu, langkah-langkah perubahan di dalam NU semakin sering dilakukan. Puncaknya terjadi pada tahun 1984, ketika Muktamar dilangsungkan di Situbondo. NU resmi menyatakan kembali ke khittahnya 1926. lepas dari hiruk pikuk partai politik.

Kiai Ali Maksum menjabat Rais Aam PBNU selama empat tahun, sejak 1981 hingga 1984. dalam susunan pengurus hasil Muktamar ke 27 Situbondo, ia menduduki posisi Mustasyar PBNU. Sedangkan Rais Aam dipercayakan kepada KH. Achmad Siddiq dan Ketua Umum PBNU dipercayakan kepada KH. Abdurrahman Wahid.

KH. Ali Maksum wafat setelah menjadi Shahibul Bait Muktamar NU ke-28 di Krapyak, Yogyakarta. Tepatnya tanggal 7 Desember 1989 dalam usia 74 tahun. Dimakamkan di pemakaman Dongkelan, bantul. Selain meninggalkan lembaga pendidikan yang cukup besar, beliau juga mewariskan banyak buku yang menjadi hasil karya tulisnya. Diantara buku karyanya yang terkenal adalah Hujjah Ahlissunah Waljama’ah, yang banyak dijadikan rujukan para ulama NU.

Ref : Buku Antologi NU

comments

2 komentar:

  1. beliau memang guru sejati, 24 jam memikirkan santri-santrinya.... lahul fatihah...

    BalasHapus
  2. Tdk menyangka mbah Ali sekeras itu.... Tapi sbg cucunya saya sangat terkesan dg usaha2 beliau

    BalasHapus