Translate

:: KHOTMIL QUR'AN AKAN DILAKSANAKAN PADA TANGGAL 9 MEI 2018 :: MOHON DO'A RESTU SEMOGA LANCAR, BERKAH, MANFAAT ::

Sabtu, 02 Juli 2011

Prof. KH. Ali Yafie, Tegas dan Konsisten

Suatu ketika di Kantor PBNU Jakarta, terdengar kabar salah satu lembaga pendidikan NU di tuban, Jawa Timur menerima sumbangan dana dari SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah). Umat resah, karena para ulama menghukumi SDSB haram, sama dengan judi. Kenapa lembaga NU malah menerimanya? Lebih menyedihkan lagi, setelah dirunut, ternyata aliran pencairan dana itu melalui sekjen PBNU Ghafar Rahman. Artinya PBNU mengetahui dan merestui peristiwa itu.

Tak lama kemudian Prof. KH. Mohammad Ali Yafie, salah seorang Rais Syuriah PBNU yang dikenal bersih dan tegas, menyatakan mundur dari kepengurusan. Bukti dari sikap konsistennya pada prinsip.


Beliau lahir di Desa Wani, Donggala, Sulawesi Tengah pada tanggal 1 September 1926. nama aslinya Muhammad Ali, sedangkan nama orang tuanya Muhammad Yafie. Kakeknya adalah syekh Abdul Hafidz Bugis, salah seorang dari 3 ulama Indonesia yang menjadi Guru Besar di Masjidil Haram, Makkah.

Beliau menyelesaikan Vervolg School (semacam lanjutan dari Sekolah Rakyat Belanda) di Parepare. Namun pembentukan karakternya lebih banyak diwarnai oleh para ulama besar Sulawesi, disamping orang tuanya sendiri yang telah mengasuhnya secara ketat. Sejak usia 12 tahun beliau sudah bisa membaca kitab kuning dengan lancar. Lalu belajar dari pesantren ke pesantren di Sulawesi, mulai dari Rappang, Sidrap, Bone, Singkang, Makassar maupun Pinrang. Selanjutnya beliau menekuni ilmunya dengan belajar otodidak, karena minat bacanya memang sangat tinggi.

Di jaman Jepang beliau diangkat sebagai mubaligh dan juru penerang pada Jam’iyah Islamiyah yang dibentuk oleh pemerintah Jepang (1947). Pada tahun itu juga beliau merintis berdirinya Pondok Pesantren Darud Dakwah wal Irsyad di Parepare. Beliau juga mengabdikan dirinya di Darud Dakwah wal Irsyad (DDI), hingga dipercaya sebagai Sekretaris Umumnya (1957), bahkan menjadi Ketua Umum PB DDI (1963-1966). Lalu menjadi Ketua Majlis Pembina, sejak 1966 hingga sekarang.

Selain di NU, mantan Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin, Makassar (1966-1972) itu juga aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI). Di MUI beliau pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pusat, sedangkan di ICMI menjadi Ketua Dewan Penasehat, disamping tercatat sebagai salah satu pendirinya. Kiai Ali Yafie juga aktif sebagai anggota Dewan Pengurus Syari’at Bank Mu’amalat Indonesia (BMI). Dalam The Habibi Centre beliau duduk sebagai salah satu Dewan Penasehat.

Kiai Ali yafie selalu konsisten dengan dunia pendidikan. Sejak usia 23 tahun hingga usianya telah berkepala tujuh, beliau tidak pernah meninggalkan dunia itu. Tidak heran kalau di usia senjanya beliau masih aktif sebagai dosen di berbagai perguruan tinggi, antara lain di universitas Asy-Syafi’iyah, Institut ilmu al Qur’an, Universitas Islam Negeri Syarif hidayatullah Jakarta, dan lain sebagainya. Kiai Ali Yafie juga duduk sebagai ketua Yayasan Pengurus Perguruan Tinggi Asy-Syafi’iyah (Yapta).

Pengalaman lainnya, beliau duduk sebagai anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN), Anggota Dewan Riset Nasional (DRN) dan Guru Besar UIA-IIQ-IAIN, dia juga pernah menjabat sebagai Hakim Pengadilan Tinggi Agama Makassar dan Kepala Inspektorat Peradilan Agama.

Juga pernah menjadi anggota DPR/MPR (1971-1987) dari Partai Persatuan Pembangunan, anggota Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional, anggota Komite Ahli Perbankan Syari’ah Bank Indonesia dan Ketua Dewan Ayari’ah nasional MUI.

Pengabdian beliau di NU diawali dengan menjadi Rais Syuriah PCNU Parepare (1957). Karena saat itu NU menjadi partai politik, Kiai Ali Yafie merupakan bagian di dalamnya. Beliau terpilih sebagai anggota DPRD Parepare mewakili NU.

Sejak Muktamar ke-27 di Situbondo (1984) beliau terpilih sebagai salah satu seorang Rais Syuriah PBNU. Jabatan itu diterimanya kembali melalui Muktamar ke-28 di Krapyak (1989). Namun 2 tahun kemudian beliau mengundurkan diri dari jabatan itu karena PBNU menerima bantuan SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah). Pengunduran diri beliau sebagai bentuk protes, karena SDSB dihukumi haram, sama dengan judi. Sejak itu namanya tenggelam di percaturan PBNU. Kiai Ali Yafie memang dikenal sangat tegas dan konsisten dalam memegang hukum. Bahkan beliau dikenal sebagai salah seorang pakar fiqh yang sangat mumpuni dalam bidangnya.

Kiai Ali Yafie merupakan salah seorang putra terbaik bangsa. Beliau telah banyak memberikan sumbangsihnya pada negara. Atas berbagai darma baktinya itu Kiai Ali Yafie telah menerima tanda penghargaan Bintang Mahaputra dan Bintang Satya Lencana Pembangunan dari Pemerintah RI.

Ref : Buku Antologi NU

0 komentar:

Posting Komentar