Translate

:: KHOTMIL QUR'AN AKAN DILAKSANAKAN PADA TANGGAL 9 MEI 2018 :: MOHON DO'A RESTU SEMOGA LANCAR, BERKAH, MANFAAT ::

Sabtu, 02 Juli 2011

Soal Khilafah, NU Belajar dari Sejarah

Sikap para tokoh Nahdlatul Ulama (NU) atas gerakan penegakan khilafah islamiyah bukan tanpa alasan. NU telah belajar sejarah dan tidak gegabah meneriakkan penegakan khilafah secara membabi-buta di tengah masyarakat Islam Indonesia. Demikian disampaikan KH Miftachul Akhyar, Wakil Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur kepada NU Online di Surabaya, Selasa (14/8).

Bila melihat sejarah masa lalu, sebenarnya kelahiran NU pada tahun 1926 masih ada kaitan erat dengan konflik khilafah dunia. Kala itu (1924) Saudi Arabia baru saja dikuasai kelompok Wahabi ingin menjadi tuan rumah Muktamar Dunia Islam dan ingin meneruskan sistem klilafah yang terputus di Turki pascajatuhnya Daulah Utsmaniyah oleh hegemoni Barat.



Namun sayang, saat itu para kiai pesantren “ditilap” oleh kelompok yang seide dengan Wahabi di Indonesia dari calon utusan yang mewakili umat Islam Indonesia. Peristiwa menyakitkan itu tidak pernah dilupakan oleh NU.

Selain itu, dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, banyak ditemukan organisasi yang punya latar belakang Islam, tetapi sikapnya tidak islami. Itulah salah satu sebab yang melatarbelakangi Hadratusy Syeikh KH Hasyim Asy’ari mendirikan NU.

“Siapa yang tidak ingin syariah Islam terlaksana dengan baik, semua ingin. Hanya saja cara mainnya yang cantik, tidak setengah matang gitu,” kata Kiai Miftah.
Dalam pandangan NU, kata pengasuh Pondok Pesantren Miftachussunnah Surabaya itu, penyumbang terbesar berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah para ulama. Negara dijadikan sebagai lahan dakwah yang potensial. Kalau dasarnya diungkit-ungkit lagi kemudian sampai NKRI pecah menjadi negara-negara federal, akan semakin menyulitkan gerakan dakwah yang sudah dibangun para ulama itu.

Dalam konteks Indonesia, kata Kiai Miftah, model dakwah yang tepat adalah gaya Walisongo, yang membina masyarakatnya lebih dulu secara mantap. “Perlu kita ingat, umat kita ini masih umat dakwah, belum umat ijabah, ini yang harus dimengerti lebih dulu,” tegasnya.
Alumnus Pesantren Sidogiri Pasuruan itu mengaku tidak alergi dengan gerakan penegakan Khilafah yang diusung kelompok Hizbut Tahrir. Hanya saja jalan yang ditempuh dinilai terlalu frontal sehingga bisa dimungkinkan akan mendatangkan kemungkaran yang lebih besar.

“Sebab konsep sebaik apapun, kalau tidak dipersiapkan masyarakat dan instrumennya secara matang, akan gagal, malah yang tidak kita inginkan, bisa-bisa dinilai jadi mungkar,” kata Kiai Miftah menambahkan.(sbh)

Surabaya, Nu Online

0 komentar:

Posting Komentar