Translate

:: KHOTMIL QUR'AN AKAN DILAKSANAKAN PADA TANGGAL 9 MEI 2018 :: MOHON DO'A RESTU SEMOGA LANCAR, BERKAH, MANFAAT ::

Rabu, 13 Juli 2011

Tarim Pusat Budaya Dunia Islam

Tahun 2010 lalu menjadi momen istimewa bagi masyarakat kota Tarim, karena pada tahun itu Tarim yang masyhur dengan sebutan “Kota Seribu Wali”, dinobatkan sebagai “Capital of Islamic Culture” (Pusat Kota Budaya Islam Dunia). Hal ini merupakan apresiasi terhadap kota Tarim sebagai sumber penyebaran agama Islam. Karena hampir 70 % belahan dunia Islam dibawa oleh para punggawa Wali Tarim dengan paham ahlussunah wal jama’ah yang moderat.

Secara geografis Tarim berada di koordinat 16o 03’ N 49o 0’ E/ 16.05o N 49o E, tepatnya berada + 35 km ke arah timur dari kota Seiyun Propinsi Hadhramaut. Luas keseluruhan 1,117.4 sq mi (2,894 km2) yang dikelilingi oleh gunung-gunung batu terjal, diwarnai oleh hijaunya dedaunan perkebunan kurma dan dihiasi hembusan desir pasir gurun bumi para Wali. Suhu standar kota ini berkisar 80.6o F (27oC), ketika musim panas diatas 104oF (40oC) dan pada musim dingin dibawah 48.2oF (9oC).



Tarim Al-Ghanna merupakan sebutan lain dari kota ini, karena kerindangannya dan kesuburannya. Tarim juga masyhur dengan sebutan kota Al-Shiddiq, dikarenakan penduduk tarim adalah masyarakat yang pertama kali mendukung Gubernur Ziyad bin Lubaid Al-Anshari ketika menyeru pembai’atan (pelantikan) Abu Bakar sebagai Khalifah Pertama, sehingga Khalifah Abu Bakar mendoakan penduduk Tarim dengan 3 hal : pertama, agar kota tersebut makmur ; kedua, airnya berkah ; ketiga, dihuni oleh banyak orang-orang shaleh.

Kota Seribu Wali ini merupakan pusat Madzhab Syafi’I, hal ini diawali hijrahnya Imam Sayyid Al-Muhajir Ilallah Ahmad bin Isa dari Iraq ke Hadhramaut sekitar abad ketiga hijriyah, dan beliaulah keturunan Rasulullah SAW yang pertama hijrah ke Hadhramaut. Di sinilah awal mulanya perkembangan para Ulama Ahlu Sunnah wal Jama’ah khususnya Madzhab Syafi’i.

Syaikh Muhammad bin Ali bin Alawi Khirid menyebutkan dalam kitabnya Al-Ghurar bahwa Keluarga Ba’lawi pindah dari desa Bait Jubair ke kota Tarim sekitar tahun 521 hijriyah. Setelah kepindahan mereka, Kota Tarim dikenal dengan kota budaya dan ilmu. Bukti kongkret adalah ribuan peninggalan dan tapak tilas beliau tampak tegak dan kokoh sampai sekarang yang merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Diantaranya Masjid-Masjid yang jumlahnya ratusan dari tahun 500 H sampai 800 H.

Himmah dan semangat berdakwah yang dimiliki waliyullah Tarim sangatlah kuat. Waliyullah tarim mengarungi samudera, menerjang badai, tak kenal putus asa untuk memeperkenalkan Islam dengan metode moderat syar’i yang sangat mulia, tanpa adanya pertumpahan darah. Mereka yang notabene imigran, pandai beradaptasi dengan adat dan budaya setempat. Sehingga masyarakat setempat bisa merasakan esensi hakikat ajaran Islam dan menjadi faktor diterimanya Islam oleh semua golongan. Sehingga dengan kucuran keringat dan kerja keras beliau, Islam bisa tersebar ke Asia Tenggara, Asia Timur, Afrika, dan beberapa negara Amerika dan Eropa.

Aktifitas Ahlu Tarim bagaikan malaikat-malaikat yang berjalan di bumi, detik demi detik terlewatkan hanya untuk beribadah kepada Allah SWT, mengaplikasikan perintahNya dan sunnah-sunnah Rasulullah SAW. Karena prinsip Ihsan yang Allah memandang mereka dan Rasulullah SAW memperhatikan mereka, sehingga siapapun yang ada di dalam kota Tarim akan merasakan aura aura cahaya para Wali yang membiaskan akhlak Nabi Muhammad SAW. Dari padang pasir tumbuh ribuan para wali, karena mereka yang selalu mengikuti suri tauladan Nabi Muhammad SAW dalam segala aspek kehidupannya. Pantaslah bila Tarim dinamakan “Kota Seribu Wali”.

Eksistensi dakwah dan urgensi pendidikan di kota berpenduduk kurang lebih 500 ribu jiwa itu tetap bertahan sampai sekarang, dengan visi memeperkenalkan doktrin ahlu sunnah wal jama’ah yang moderat, disertai pengamalan akhlak Rasulullah SAW dalam segala aspek kehidupan. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyak-nya tholibul ‘ilmi (pelajar dan mahasiswa) dari dalam maupun luar negeri yang menuntut ilmu di Ribath Tarim, Darul Mushtafa, Daruz Zahrah, Universitas Al Algaff dan lembaga pendidikan lainnya.

Perjuangan para waliyullah kota ini dalam menyebarkan Islam ke seantero dunia dan pengaruh Kota Tarim dalam membentuk karakter Ummatan Wasathan (Ummat Moderat) yang berasas Ahlu Sunnah wal Jama’ah menginspirasi ISESCO yang merupakan salah satu badan di bawah naungan OKI untuk menganugerahkan penghargaan bergengsi kepada kota Tarim sebagai “Pusat Kota Budaya Islam Dunia”

M. Taufiq El-Hamidy,
Aula No. 2 Th xxxiii/peb-2011 

comments

2 komentar:

  1. mantap blognya dan artikelnya kawan, jangan lupa kunjung balik yah?

    BalasHapus
  2. boleh tau bnyak tntang daruz zahra gk.....
    pendftaranx & biayanya...

    BalasHapus