Translate

:: Terima Kasih Atas Kunjungan Anda ::

Kamis, 16 Juni 2016

“Kenapa ‘Amrun Selalu Dipukuli Zaid?”

Kisah Dalam Ilmu Nahwu
Dikisahkan seorang gubernur bernama Daud Basya dari daulah Utsmaniyah ingin belajar bahasa Arab. Lalu dia menghadirkan salah seorang ulama dari para ulama di negerinya.

Suatu hari dia bertanya kepada gurunya: “Apa kesalahan si ‘Amrun sampai-sampai si Zaid memukulnya tiap hari. Apakah ‘Amrun berkedudukan lebih rendah dari Zaid sehingga Zaid bebas memukulnya, menyiksanya dan Amrun tidak bisa membela dirinya?”

Si gubernur menanyakan hal ini sambil menghentakkan kakinya ke tanah sembari marah-marah.

Lalu gurunya menjawab: “Tidak ada yang dipukul, tidak ada yang memukul wahai gubernur. Ini cuma permisalan saja yang dibuat ulama nahwu supaya memudahkan untuk belajar ilmu lughat itu.”

Lalu jawaban ini tidak dapat memuaskan sang gubernur dan ia marah. Lalu ia penjarakan gurunya tadi. Kemudian ia menyuruh orang mencari ulama nahwu yang lain. Lalu ia tanya kepada mereka seperti pertanyaan itu, dan mereka jawab dengan jawaban seperti ulama yang pertama tadi. Lalu mereka juga terpenjara.

Satu persatu ulama negeri itu tidak dapat memuaskan gubernur dengan jawabannya. Akhirnya penuhlah penjara dan sunyilah madrasah-madrasah dari guru-guru pengajar dikarenakan ulamanya semua terpenjara.

Kejadian ini menjadi pembahasan di mana-mana dan bagaimana mencari jalan keluarnya. Kemudian ia utus seorang utusan untuk menjemput para ulama ahli bahasa di Baghdad untuk dihadirkan di hadapannya.

Akhirnya pimpinan ulama yang paling alim dari para ulama Baghdad ini berani maju menjawab pertanyaan sang gubernur. Maka gubernur Daud bertanya: “Apa kesalahan ‘Amrun sehingga selalu dipukul Zaid?”

Maka sang ulama menjwb: “Kesalahan ‘Amrun adalah karena ia telah mencuri huruf waw yang seharusnya itu milik Anda wahai gubernur”, sambil ulama tadi mengisyaratkan adanya huruf waw di kalimat ‘Amrun setelah ra’. “Dan huruf waw yang seharusnya ada 2 di kalimat Daud ternyata cuma ada 1. Maka para ulama nahwu menguasakan si Zaid untuk selalu memukul ‘Amrun sebagai hukuman atas perbuatannya itu.”

Maka sangat puaslah sang gubernur dengan jawaban ini seraya memuji-muji ulama tadi. Kemudian sang gubernur menawarkan hadiah: “Apa saja yang kamu kehendaki silakan sebutkan.”

Lalu ulama tadi menjawab: “Aku cuma minta agar para ulama yang Anda penjarakan dibebaskan semuanya.”

Maka gubernur mengabulkannya dan akhirnya para ulama itu bebas dari penjara. Kemudian para ulama dari Baghdad tadi diberi hadiah sekaligus diberi uang transport dan diantar kembali ke negeri mereka.

(Lihat dalam an-Nadzorot jilid 1 halaman 307 karya asy-Syeikh Mushthafa Luthfi bin Muhammad Luthfi al-Manfaluthiy Mesir).
Oleh : Kang Arul

comments

2 komentar: