Translate

:: Terima Kasih Atas Kunjungan Anda ::

Kamis, 16 Juni 2016

Biografi Imam Ibnu Malik (Bag 2) “Runtuhnya Ke-Akuan Ibnu Malik”

Tidak diragukan lagi bahwa Imam Ibnu Malik adalah pakar ilmu nahwu yang paling populer di dalam sejarah keilmuan Islam kontemporer. Karya Monumental beliau yg berjumlah -+ 1000 bait syair dalam menerangkan kaidah ilmu nahwu bernama Alfiyah telah tersebar ke berbagai penjuru dan banyak menjadi referensi utama pemerhati ilmu nahwu.

Namun, kegemilangan yang beliau dapatkan sebagai pakar nahwu ternyata pernah "tercoreng" akibat "kesombongan". Konon, ada sedikit 'masalah' yang dihadapi oleh imam Ibnu Malik ketika berusaha menyusun bait-bait syair tersebut. Hal itu terkait dengan salah satu bait dalam karya Alfiyah-nya.


Sebagaimana diketahui, dalam salah satu baitnya, Ibnu Malik menyinggung bahwa bait Alfiyah yang dia susun masih lebih baik (lebih unggul) dibandingkan Alfiyah karya Ibnu Mu'thi, yang notabene adalah guru beliau sendiri.


Ibnu Mu'thi mempunyai nama lengkap Abu Zakariya Yahya bin Mu'thi al-Zawawi. Beliau lahir dan tumbuh besar di Maroko. Setelah mempelajari bahasa arab kepada Abu Musa al-Jazuli, beliau berangkat ke Damaskus, dan berdomisili di sana dalam jangka waktu yang lama.

Selama di Damaskus, banyak orang yang belajar dan mengaji kepadanya. Setelah beberapa waktu, beliau pindah ke Mesir dan mengajar di Universitas 'Atiq, hingga wafat pada hari Senin, di akhir bulan Dzul Qa'dah 628 H. dalam usia 64 tahun. Beliau mempunyai karangan di bidang nahwu yang bernama Alfiyah juga.

diceritakan karena sangking semangatnya Imam Ibnu Malik dalam menuangkan ide-idenya dalam karya Alfiyah-nya, maka pada muqoddimah kitab tersebut beliau menggubah separo bait syair berbunyi:

وَتَقْتَضِى رِضًا بِغَيْرِ سُخْطِ   #      فَائِقَةً أَلْفِيَّةَ بْنِ مُعْطِ
“Alfiyahku ini hanya mengharapkan ridho (Allah SWT) tanpa marah”
“mengungguli kitab Alfiyah’nya Ibnu Mu’thi”

Dari bait sya'ir ini dapat kita simak bahwa Ibnu Malik begitu membanggakan karyanya, bahkan dianggap lebih unggul dari pendahulunya, Ibnu Mu'thi. Bukan tanpa sebab, karena beliau merasa bahwa pembahasan dan penguraian kaidah nahwu yang dipaparkannya lebih lengkap dan rapi. Selain itu, Alfiyah Ibnu Malik ini juga melengkapi kekurangan dan ketimpangan kaidah yang terdapat pada karya Ibnu Mu'thi.

Konon, setelah bait di atas, Ibnu Malik meneruskan pada berikutnya dengan kalimat,

فَائِقَةً مِنْهَا بِأَلْفِ بَيْتِ       #     

"Alfiyahku lebih unggul darinya (Alfiyah Ibnu Mu’thi) dengan seribu bait"
Nah, baru sampai disini, hanya setengah bait, keanehanpun muncul, dengan sekejap Imam Ibnu Malik seperti kehilangan inspirasi untuk menyempurnakan bait tersebut. Serasa buntu semua pikirannya dalam menuangkan ide. Bahkan selama beberapa hari beliau tetap belum bias juga mencari kalimat yang tepat untuk menyempurkan bait tersebut. Hingga pada suatu malam, Ibnu Malik bertemu dengan seseorang dalam mimpinya.
Orang itu berkata, "Aku dengar kamu sedang  menyusun nadham Alfiyah tentang ilmu nahwu ya ?"

"Benar," jawab Ibnu Malik.

Orang tersebut kemudian berkata, "Sudah sampai di mana karanganmu?" 

Ibnu Malik kemudian menjelaskan kalau karangannya 'baru' sampai di bait 'Fa`iqatan Minha Bi Alfi Bayyiti'.

Orang itu kemudian bertanya, "Apa yang membuatmu tidak bisa menyempurnakannya?"

"tidak tahu, Sudah beberapa hari ini aku tidak mampu melakukannya," jawab Ibnu Malik.

"Apakah kamu ingin menyempurnakan bait itu?" tanyanya kepada Ibnu Malik.

Ibnu Malik pun mengiyakan pertanyaan orang tersebut.

Orang itu pun berkata, lanjutkanlah dengan :  وَاْلحَيُّ قَدْ يَغْلِبُ أَلْفَ مَيِّتِ

" bisa saja orang yang hidup itu mengalahkan seribu mayyit (orang yg sudah meninggal)"


Jadi bila digabung dengan separo bait yang macet akan berbunyi lengkap :

فَائِقَةً مِنْهَا بِأَلْفِ بَيْتِ       #      وَاْلحَيُّ قَدْ يَغْلِبُ أَلْفَ مَيِّتِ

"alfiyah-ku lebih unggul darinya (Alfiyah Ibnu Mu’thi) dengan seribu bait"
" bisa saja orang yang hidup itu mengalahkan seribu mayyit “

Mendengar penuturan orang asing tersebut, Ibnu Malik kaget. Karena beliau yakin tambahan bait dari orang tersebut adalah sebagai sindiran kepada beliau, bahwa orang mati mau ditantang berapa kalipun tetap tidak akan bisa meladeni tantangan orang hidup, bahkan mau 1000 orang mati sekalipun, karena mereka sudah tidak bias berkarya. jadi ungkapan ibnu malik bahwa “alfiyahnya lebih unggul dari alfiyah Ibnu Mu’thi” adalah tidak fair.

"Apakah Anda Ibnu Mu'thi?" tanya Ibnu Malik sejurus kemudian.

"Benar," jawab orang itu.

Ibnu Malik pun merasa malu kepada Ibnu Mu'thi. Keesokan harinya, Ibnu Malik menghapus bait yang tidak sempurna itu, dan menggantinya dengan bait lain yang isinya memuji kehebatan Ibnu Mu'thi. Bait itu adalah;

وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلَا    #      مُسْتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ اْلجَمِيْلاَ
وَاللهُ يَقْضِى بِهِبَاتٍ وَافِرَةْ    #      لِي وَلَهُ فِى دَرَجَاتِ الآخِرَةْ

“beliau (Imam Ibnu Mu’thi) lebih utama dariku karena lebih awal”
“dan wajiblah mendapat sanjungan indahku”
“semoga Allah memberikan anugerahnya yang luas”
“untukku dan beliau dengan keluhuran nanti di akhirat”

Dari sinilah dapat kita petik pelajaran, bahwa secerdas dan sejenius apapun kemampuan akal seseorang, dia harus mempunyai jiwa yang tawadlu' dan menghormati orang lain, terlebih gurunya.


'Kesombongan' Ibnu Malik yang 'meremehkan' Ibnu Mu'thi sempat menghalangi dirinya untuk menyusun bait Alfiyah yang sangat monumental tersebut. Bagaimanapun, Sang Penemu pasti lebih jenius daripada Sang Penerus.
bersambung ke : Bagian 3 "Periode Nahwu di andalusia"

Kembali ke : 
"Bagian 1"

Lihat Bagian 4 : 
"Beberapa Kitab Syarah Alfiyah Ibnu Malik"

comments

1 komentar:

  1. wah, baru dengar cerita ini... mantab...

    BalasHapus