Translate

:: KHOTMIL QUR'AN AKAN DILAKSANAKAN PADA TANGGAL 9 MEI 2018 :: MOHON DO'A RESTU SEMOGA LANCAR, BERKAH, MANFAAT ::

Jumat, 17 Juni 2016

Biografi Imam Ibnu Malik (Bag. 4) " Beberapa Kitab Syarah Alfiyah Ibnu Malik"

Disebutkan dalam kitab Kasyfudz Dzunun bahwa para ulama yang menulis syarah Alfiyah lebih dari 40 orang. mereka ada yg menulis dengan panjang lebar, ada yang singkat, bahkan ada pula yang belum selesai. disamping itu ada pula kreasi dari para ulama yang memberikan catatan pinggir ( hasyiah) pada kitab-kitab syarah Alfiyah Ibnu Malik.

Kitab syarah Alfiyah yang ditulis pertama adalah karya putra Ibnu Malik sendiri, yang bernama Muhammad Badruddin. Syarah yang ditulis putranya ini banyak mengkritik pemikiran nahwiyah dari ayahnya, seperti kritikan tentang maf'ul mutlaq, tanazu', dan sifat mutasyabihat. Terlihat aneh memang kritikan ini, namun putranya tetap bersikukuh tentang perlunya penataan ulang pada tulisan ayahnya. Atas dasar keyakinan tersebut Muhammad Badruddin membuat Alfiyah tandingan, yang syawahidnya menggunakan ayat-ayat Al- Qur'an.

Apa yang dilontarkan Muhammad Badruddin memang rasional, namun hampir semua pakar nahwu tahu bahwa tidak semua teks Al-Quran bisa disesuaikan dengan teori-teori nahwiyah yang sudah dianggap baku oleh ulama.

Putra Ibnu Malik yang masa mudanya tinggal di Kota Ba'labak ini merupakan kritikus yang handal, hanya saja dia sering mendukung teori-teori nahwu yang syadz. Maka tidak heran bila banyak penulis syarah Alfiyah sesudahnya tidak segan memberikan ralat atas alur pemikiran putra Ibnu Malik tsb. Diantara ulama tersebut adalah Ibnu Hisyam, Ibnu ‘Aqil, dan Al Asymuni.

 banyak juga ulama besar yang menulis hasyiah untuk kitabnya, seperti kitab karya Ibnu Jama'ah, Al ‘Aini, Zakaria Al Anshori, As Suyuthi, Ibnu Qosim Al ‘Abbadi, dan Qodhi Taqiyuddin Ibnu Abdil Qodir At Tamimiy.

Selain putra Ibnu Malik banyak penulis-penulis syarah Alfiyah yang terkenal, antara lain Imam Al Muradi, Ibnu Hisyam, Ibnu ‘Aqil, dan Al Asymuni.

Al-Muradi yang wafat tahun 749 H menulis dua kitab syarah untuk kitab Tashilul Fawaid dan Nadzam Alfiyah, keduanya adalah karya Imam Ibnu Malik. Meskipun syarah ini tidak popular di Indonesia, tetapi pendapat-pendapatnya banyak dikutip oleh ulama lain, antara lain Imam Ad Damaminiy (wafat 827 H).

Ad Damaminiy adalah sastrawan besar, dan ketika beliau menulis juga Syarah Tashilul Fawaid maka karya Al Muradi dijadikan sebagai kitab rujukan. Begitu juga Al Asymuni ketika menulis Syarah Alfiyah dan Ibnu Hisyam ketika menyusun Al Mughni banyak mengutip pemikiran Al Muradi yang merupakan murid Abu Hayyan ini.

Ibnu Hisyam (wafat 761 H) adalah ahli nahwu raksasa yang karya-karyanya banyak dikagumi oleh ulama berikutnya. Diantara karya itu adalah syarah Alfiyah yang diberi nama Audhohul Masalik.  Dalam kitab ini beliau banyak menyempurnakan definisi suatu istilah yang konsepnya telah disusun oleh Imam Ibnu Malik, seperti definisi tentang tamyiz.

Beliau juga banyak menertibkan kaidah-kaidah yang antara satu sama lain sering bertemu, seperti kaidah-kaidah pada bab tamyiz. Tentu saja, beliau tidak terpaku pada madzhab Andalusia saja, tetapi juga mengutip madzhab Kufah, Bashrah dan lainnya.

Kitab ini cukup menarik, sehingga banyak ulama besar yang menulis hasyiahnya. Antara lain Hasyiah As Suyuthi, Hasyiah Ibnu Jama’ah, Hasyiah putra Ibnu Hisyam Sendiri, Hasyiah Al ‘Aini, Hasyiah Al Karkhi, Hasyiah As Sa’di Al Maliki Al Makki, dan yang menarik lagi adalah catatan kaki (ta’liq) bagi kitab Al Audhoh yang disusun oleh Khalid Ibnu Abdullah Al Azhari (wafat 905 H).

Adapun Ibnu Aqil (wafat 769 H) adalah ulama kelahiran Aleppo, Syiria dan pernah menjabat sebagai penghulu besar di Mesir. Karya tulisnya banyak, tetapi yang terkenal adalah Syarah Alfiyah. Syarah ini sangat sederhana dan mudah dicerna oleh pemula yang ingin memepelajari Alfiyah Ibnu Malik.

Beliau mampu menguraikan bait-bait Alfiyah secara metodologis, sehingga terungkaplah apa yang dimaksudkan oleh Imam Ibnu Malik. Dan Syarah Alfiyah inilah yang paling banyak beredar di Pondok Pesantren di Indonesia dan paling banyak dibaca oleh kaum santri. Terhadap syarah ini ulama berikutnya tampil membuat hasyiahnya, antara lain Hasyiah Ibnul Mayyit, Hasyiah Athiyatul Ajhuri, Hasyiah Asy Syuja’i dan Hasyiah Al Khudhoriy.

Syarah Alfiyah yang hebat lagi adalah Manhajus Salik Karya Al Asymuni (wafat 29 H). Syarah ini sangat kaya akan informasi, dan sumber kutipannya sangat bervariasi. Syarah ini bias dinilai sebagai kitab nahwu yang paling sempurna, karena memasukkan berbagai pendapat madzhab dengan argumentasinya masing-masing.


Dalam syarah ini banyak mengutip pendapat ulama-ulama yang menulis syarah Alfiyah sebelumnya. Bahkan mengutip juga pendapat Ibnu Malik sendiri yang dituangkan dalam kitab Al Kafiyah yang tidak terdapat dalam Alfiyah. Dan semua kutipan-kutipan itu diletakkan pada posisi yang tepat dan disajikan secara sistematis, sehingga para pembaca mudah menyelusuri suatu pendapat dari sumber aslinya. Sehingga kitab ini banyak memiliki hasyiah juga, antara lain ; Hasyiah Hasan Ibnu Ali Al Mudabbighi, Hasyiah Ahmad Ibnu Umar Al Asqothi, Hasyiah Al Hifni, dan Hasyiah Asy syabban.

Kembali ke : 

"Bagian 1"

Kembali ke Bagian 2 : 

Kembali ke bagian 3 : 

0 komentar:

Posting Komentar