Translate

:: Terima Kasih Atas Kunjungan Anda ::

Senin, 13 Juni 2016

Ponpes Mifda Kroya sebagai Benteng Moral di Cilacap

SATU persatu santri keluar dari rumah Kiai Suaída, setelah sejak Subuh mengaji. Sebelumnya mereka mengaji Alquran dan kitab-kitab salaf atau kitab kuning orang menyebutnya.

Suasana semakin riuh ketika menengok ke asrama santri. Walau jumlah kamar mandi sudah memadai dan ada beberapa santri yang mandi sebelum subuh, tetapi mereka masih tetap berebut kamar mandi. Menurut Kiai Sua’da, Pondok Pesantren Miftahul Huda Kroya memiliki sejarah panjang, sama seperti pesantren kebanyakan.

Bermula dari keprihatinan KH M Minhajul Adzkiya yang merupakan ayah dari KH Su’ada, melihat kondisi masyarakat di sekitar Kroya yang masih kekurangan sentuhan nilai-nilai Islami. Karena itu pada 1951/1962, Kiai Minhajul Adzkiya bersama KH Munawwir Alhafidz mendirikan Pondok Pesantren Miftahul Huda Kroya, sebagai media untuk berdakwah dan mengkader santri, agar dapat mensyiarkan agama Islam. 

Meski secara resmi didirikan pada 1951, tetapi cikal bakal pondok pesantren itu sudah ada sejak sebelum kemerdekaan.

Sebelum kemerdekaan, KH Minhajul Adzkiya sudah terlebih dahulu mendirikan pondok pesantren di sebelah selatan stasiun Kroya. Pondok dengan dua asrama tersebut, terdiri atas beberapa kamar (gothakan) dan sebuah mushala kecil di sebelahnya.

Jumlah santrinya sudah mencapai sekitar 200 orang. Tetapi mengenai waktu pendiriannya, tidak ditemukan data yang pasti, selain keterangan bahwa pondok itu didirikan sebelum masa kemerdekaan.

Saat terjadi aksi militer Belanda II (Clash II), dia bersama beberapa warga dan santri mengungsi ke Ngasinan, di Kebasen Banyumas, sebelum akhirnya pindah lagi ke Rawaseser (sebuah Dusun di Desa Mujur, Kecamatan Kroya).

Dalam keadaan tidak menentu, dia tetap istiqamah dalam proses belajar mengajar. Pasca Clash II dan suasana sudah aman, kiai kembali ke Kroya. Tetapi ternyata tempat tinggalnya, berikut asrama dan mushala sudah rata dengan tanah. KHM Adzkiya merupakan sosok yang tegar, tidak mudah patah semangat.

Ketika mengetahui tempat tinggal dan asrama santri sudah rata dengan tanah, dia pindah ke Kauman Kroya. Di sini, kiai sekaligus memimpin Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kroya.

Kiai Adzkiya sempat memberikan pengajian kepada orang-orang di sekitar Kauman, sampai akhirnya diangkat untuk memimpin Pengadilan Agama di Kabupaten Wonosobo. Tugas negara itu mengharuskannya pindah ke Wonosobo sampai pensiun 1962. 

KHM Adzkiya merupakan salah satu pendiri NU di kabupaten Cilacap, yang secara resmi didirikan di Kroya pada 1936. Beliau begitu tegas dan berani.

Setiap ada serangan yang dilakukan oleh Islam garis keras kepada NU, atau dari pihak lain, dia tidak segan mengajak berdebat siapa saja, guna meluruskan kesalahpahaman yang sering dilontarkan kepada NU.

Maksud dari beliau adalah baik, yaitu jangan sampai Islam yang rahmatan lil ëalamiin, dinodai oleh klaim-klaim sebagian golongan Islam, sebagai yang paling benar. Prinsip ini dibawa sampai dengan akhir hayatnya, pada 1981.
Pendidikan Formal

Sepeninggal kiai Adzkiya, pondok pesantren Miftahul Huda diasuh secara berturut-turut oleh KH Tarmidzi Affandi, KH Zainuddin, KH. Hamam Adzkiya, KH Suíada, dan Hj Masíadah Machali untuk pondok pesantren putrinya.

Saat ini, pondok pesantren Miftahul Huda dan pondok pesantren putri Al-Hidayah mendidik sekitar 350-an santri dan diasuh oleh putra KHM Minhajul Adzkiya yang egaliter, tetapi tetap tegas, yaitu KH Hamam Adzkiya, KH Suíada Adzkiya, dan Hj Masíadah Machali, juga KH. Mudatsir Mughni yang, dibantu oleh para pengurus dan dewan asatidz. 

Untuk selanjutnya jika disebut pondok pesantren Miftahul Huda, yang dimaksudkan adalah juga termasuk pondok pesantren putri Al-Hidayah.

Lebih kurang 75% santri mengikuti pendidikan formal baik SD, SLTP, dan SMA/SMK yang diselenggarakan oleh Yayasan Miftahul Huda Kroya dan di luar yayasan, seperti SMP Negeri, SMA Negeri, MAN, dan lain-lain. Sebanyak 25% lainnya, khusus mendalami kajian ilmu-ilmu keagamaan masuk di dalam Halaqah Diniyah, yang terdiri atas kelas persiapan (Iídad), kelas satu, dua, dan kelas tiga.

Konsep pengelolaannya lebih diorientasikan pada peningkatan dan pengembangan secara kualitatif, dengan tanpa mengabaikan yang kuantitatif. Semua santri diperlakukan sama. Qanun pesantren berlaku untuk semua santri tanpa kecuali.

Kurikulum pesantren disusun berdasarkan kebutuhan dan tingkat kemampuan santri. Tetapi pesantren memberikan kebebasan kepada seluruh santri, untuk bereksplorasi sendiri, dengan memanfaatkan perpustakaan yang tersedia. Untuk mengikuti perkembangan situasi sosial politik budaya, dan lain-lain, pesantren berlangganan Suara Merdeka.

Pondok Pesantren ini mengalami perkembangan signifikan, hal ini tidak terlepas dari dukungan besar, yang diberikan oleh para pengurus pondok, dewan asatidz, dan masyarakat sekitar pesantren.

Hubungan ini semakin baik, yang dibuktikan dengan program beasiswa bagi santri berprestasi yang kurang mampu dari sisi ekonomi. Sampai saat ini tercatat ada sekitar 75 santri yang mengikuti program ini, dan bersekolah di SMA Islam Buana Kroya, program intensif. (Agus Fathudin Yusuf)



0 komentar:

Posting Komentar