Translate

:: KHOTMIL QUR'AN AKAN DILAKSANAKAN PADA TANGGAL 9 MEI 2018 :: MOHON DO'A RESTU SEMOGA LANCAR, BERKAH, MANFAAT ::

Kamis, 23 Juni 2016

Sahabat Ali bin Abi Thalib, Pencetus Ilmu Nahwu

Terdapat perbedaan dikalangan ulama nahwu tentang siapa pencetus ilmu nahwu. Diantara pendapat-pendapat itu adalah bahwa pencetus ilmu nahwu adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, Imam Abul Aswad Ad Duali, Abdurrahman bin Humuz Al A’raj, dan ada juga yang berpendapat Nashr bin ‘Ashim Al Laitsiy.

Manakah yang paling kuat ? menurut penulis adalah Ali bin Abi Thalib yang kemudian diteruskan oleh Imam Abul Aswad. Ide itu tercetus karena adanya beberapa orang arab yang salah dalam mengucapkan bahasanya sendiri, dan juga kekeliruan mereka dalam membaca Al- Qur’an dan Hadits.

Terdapat suatu kisah yang dinukil dari Abul Aswad, bahwasanya ketika beliau sedang berjalan-jalan dengan anak perempuannya. Pada saat itu anak beliau menengadahkan pandangannya ke langit, merenungkankan indahnya bintang-bintang yang gemerlapan, sembari berkata :
مَا أَحْسَنُ السَّمَاءِ
“Apakah yang paling indah di langit”

Dengan mendhommah huruf “nun” dan mengkasrohkan “hamzah”. Yang berarti sebuah kalimat Tanya.

Kemudian sang ayahpun menjawab :
نُجُوْمُهَا يَا بُنَيَّةُ
“Bintang-bintangnya, wahai anakku”

Namun sang anak protes dengan berujar :
إِنَّمَا أَرَدْتُ التَّعَجُّبَ
“Sesungguhnya aku ingin mengungkapkan kekaguman”

Sang ayahpun menjawab, kalo begitu seharusnya kamu katakan :
مَا أَحْسَنَ السَّمَاءَ
“betapa indahnya langit”

Dan Bukan : مَا أَحْسَنُ السَّمَاءِ

Dikisahkan pula dari Abul Aswad , bahwa ketika beliau melewati seseorang yang sedang membaca Al-Qur’an, terdengar sang qori’ sedang membaca surat At-Taubah ayat 3, dengan bacaan :
أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِنَ اْلمُشْرِكِيْنَ وَرَسُوْلِهِ

Dengan mengkasrahkan huruf lam pada kata rasuulihi yang seharusnya dhommah. Menjadikan artinya sangat jauh berbeda, yaitu : “Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan Rosul-Nya”. jadilah arti Al-Qur’an menjadi rusak dan menyesatkan.

Seharusnya kalimat tersebut bermakna: “ sesungguhnya Allah dan Rosul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik”

Karena mendengar perkataan ini maka Abul Aswad Ad Duali menjadi ketakutan, beliau takut keindahan bahasa Arab menjadi rusak, padahal hal itu terjadi di periode awal islam.

Hal inipun dirasakan pula oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib, sehingga untuk memperbaiki keadaan ini maka beliau mulai menulis tentang pembagian kata, bab inna dan saudaranya, bentuk idhofah, kalimat ta’ajjub, kata Tanya, dll.

Kemudian Sahabat Ali bin Abi Thalib berkata kepada Abul Aswad :
اُنْحُ هذَا النَّحْوَ  !!
“ikutilah jalan ini !!! “

Dari kalimat inilah maka kaidah bahasa arab disebut dengan ilmu nahwu.
Kemudian Abul Aswad melaksanakan tugasnya dengan menambahi kaidah-kaidah tersebut dengan  bab-bab lainnya sampai terkumpul banyak.

Kemudian dari Abul Aswad inilah muncul ulama-ulama lainnya, seperti Abu Amru bin Alaai, kemudian Al Kholil Al Farahidi Al Bashri (peletak ilmu ‘arudh dan mu’jam pertama), sampai ke Imam Sibawaih dan Imam Kisai (pakar ilmu nahwu dan menjadi rujukan utama).

Setelah tersusunnya ilmu nahwu dan banyak ulama yang yang mempertajam pembahasannya, maka hal ini mengakibatkan timbulnya aliran-aliran dalam ilmu nahwu, yang disebabkan pertentangan mereka dalam menentukan posisi (mahal) kata dalam suatu kalimat. Beda persepsi ini tidak luput dari pengaruh daerah para ulama tersebut menetap.  Diantara aliran-aliran ilmu nahwu tersebut adalah : aliran Bashrah, Kufah, Baghdad, Mesir, dan Andalusia. Namun yang terkenal hanyalah dua yaitu Bashrah dan Kufah.


0 komentar:

Posting Komentar