Translate

Khotmil Qur'an 2016, Jumlah khotimat : 54 binnadzri dan 4 bilhifdzi

Kunjungan Syeikh Kholil dari Lebanon

Syeikh Kholil bin Abdil Qodir Ad Dabbagh Al-Hasani, dari Beirut Lebanon. Alhamdulillah semoga dengan kunjungan beliau kami semua mendapatkan keberkahan... amiin

Kunjungan TV Indosiar

dalam rangka penjaringan peserta AKSI Indosiar untuk wilayah Cilacap dan sekitarnya

Raker Pengurus 2015

rapat kerja pengurus 2015 di pantai cemara sewu, di bawah pohon cemara dan desiran angin sepoi-sepoi

Lomba Hadroh Tingkat Propinsi Jawa Tengah

Bersama Fatayat Cilacap, Lomba Hadroh Tingkat Propinsi Jawa Tengah di Semarang

Rafting Group Hadroh Tsamrotul Hidayah

Arung jeram melatih kerja team dan keberanian mengatasi rintangan

Bersama Bupati Cilacap dan Wakilnya

POSPEDA 2016, Alhamdulillah dapat memborong 12 Piala

:: Pondok Pesantren Ahlussunah wal Jama'ah An Nahdliyyah::

Rabu, 05 Mei 2021

Mondok Apa Nyantri?

Suatu Ketika, di sebuah majelis tempat mujahadah, Nampak seorang pemuda yang denga nagak tegang menanti Abuya Dimyathi Banten yang sedang sibuk dengan wirid-wirid ba’da sholat. Pemuda itu duduk bersila menanti beliau selesai wiridan. Di depan pemuda itu tergeletak sebuah botol air mineral, tampaknya ia ingin agar Abuya Dimyathi membacakan do’a dan meniup air mineral tersebut untuk tabarrukan. Jika melihat penampilannya kelihatan bahwa pemuda itu ingin nyantri ke Abuya Dimyathi.

Ketika dilihatnya bahwa Abuya Dimyathi telah selesai melafalkan wirid-wiridnya dan selesai melaksanakan sholat sunnah, raut pemuda itu Nampak berbinar.

“Mau apa?” tanya Abuya ketika pemuda itu menghampiri dan menycup kedua tangan beliau. Maksud Abuya dengan pertanyaan itu adalah “Ada kepentingan apa?”. Memang Abuya Dimyathi sering mengucapkan pertanyaan itu kepada tamu-tamunya.

“Mau mondok di tempat Abuya” jawab pemuda tersebut dengan raut muka agak tegang.

“Mau Mondok?” tanya Abuya dengan suara agak keras. Pemuda itu tampak kaget dengan reaksi Abuya Dimyathi, lalu dengan suara yg tersendat-sendat pemuda itu Kembali berkata : “Saya mau mondok, Abuya “.

“Kalau mau mondok kenapa tidak di Jakarta saja” Tanya Abuya Dimyathi.

Mendengar jawaban Abuya tersebut pemuda itu malah semakin bingung dan terlihat clingukan.

“La iya… kalua mau mondok kenapa tidak di Jakarta saja, disana kan banyak pondok, ada ada pondok indah, pondok gede, dan semacamnya” lanjut Abuya Dimyathi.

Sayangnya, pemuda tersebut belum paham juga dengan maksud ucapan Abuya Dimyathi. Untuk mencairkan suasana, Abuya Dimyathi berkata lagi : “Di sini mah pesantren, tempat ngaji”.

Dug,,, Si pemuda itupun sekarang paham arah dari perkataan-perkataan Abuya Dimyathi. Karena seharusnya pemuda itu bilang “ Saya mau nyantri” atau “Saya mau ngaji”.

Abuya Dimyathi nampaknya ingin memberi pemahaman kepada pemuda itu bahwa “pesantren” dan “kos-kos’an” amatlah jauh berbeda.

Persatuan Umat Islam

Umat Islam seluruh dunia amaliyahnya mayoritas sama denga apa yang diamalkan oleh jam’iyyah NU selama ini. Dan harus dipahami bahwa NU berdiri bukan untuk mengotak-ngotakkan umat Islam, karena kalau kita cermati sejarah berdirinya NU maka kita paham bahwa didirikannya NU bukan atas dasar dorongan politik atau dorongan membuat negara tetapi murni demi mempertahankan faham ahlussunah wal jama’ah (Aswaja) di Indonesia. Dan mempertahankan faham Ahlussunah wal Jama’ah hakikatnya mempertahankan Islam itu sendiri.  Sabda Nabi :

اِفْتَرَقَتِ اليَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى أَوِ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً ، وَافْتَرَقَتْ النَّصَارَى عَلَى إِحْدَى أَوِ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً ، وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، النَّاجِيَةُ مِنْهَا وَاحِدَةٌ وَالبَاقُوْنَ هَلْكَى . قِيْلَ: وَمَنْ النَّاجِيَةُ؟ قَالَ: أَهْلُ السُّنَّةِ وَاْلجَمَاعَةِ . قِيْلَ: وَمَا السُّنَّةُ وَالْجَمَاعَةُ ؟ قَالَ: مَا أنَا عَلَيْهِ اليَوْمَ وَ أَصْحَابُهُ

“orang-orang Yahudi bergolong-golong terpecah menjadi 71  atau 72 golongan, orang Nasrani bergolong-golong menjadi 71 atau 72 golongan, dan umatku (kaum muslimin) akan bergolong-golong menjadi 73 golongan.  Yang selamat dari padanya satu golongan dan yang lain celaka. Ditanyakan ’Siapakah yang selamat itu?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Ahlusunnah wal Jama’ah’. Dan kemudian ditanyakan lagi, ‘apakah assunah wal jama’ah itu?’ Beliau menjawab, ‘Apa yang aku berada di atasnya, hari ini, dan beserta para sahabatku (diajarkan oleh Rasulullah SAW dan diamalkan beserta para sahabat (HR. Tabarani)

Jangan sampai tertipu, karena semua mengaku sebagai golongan yg satu ini, maka lihatlah ummat dari masa ke masa dan lihatlah mayoritas umat saat ini di dunia, sebagaimana sabda nabi :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً كُلُّهُنَّ إِلَى النَّارِ مَا خَلاَ وَاحِدَة ناجية وَكُلُّهُمْ يَدَّعِي تِلْكَ الوَاحِدَةَ

“ Dari Sahabat Ibnu Abbas ra dari Rasulillah SAW bersabda : umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semua di neraka kecuali hanya satu yang selamat. Dan semua golongan tsb mengaku sebagai golongan yg selamat.”

Aswaja merupakan golongan mayoritas umat Islam di dunia, dalam hal aqidah aswaja mengikuti Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur Al-Maturidi. Sementara golongan minoritas  adalah seperti pengikut Ibnu Taimiyah dan Muhammad bin Abdul wahhab yang sering disebut wahabi/salafi, ada juga golongan syi’ah, mu’tazilah, qodariyah, jabariyah, mujassimah dll.

Dalam bidang fiqh, Aswaja menganut pendapat dari salah satu madzhab empat yaitu Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Hanbali. Kalau tidak bermazhab, itu berarti jelas bukan Ahlussunnah wa Jama’ah. Dan dalam bidang tasawuf/akhlak, Aswaja menganut Imam Junaid al-Baghdadi dan Abu Hamid Al-Ghazali. Aswaja itu tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), I’tidal (tegak lurus) dan tasamuh (toleran). Aswaja itu tidak menyalahkan orang lain, tidak mengkafirkn orang lain.

Maka kalau ada ide tentang persatuan umat islam baik di Indonesia ataupun di dunia, maka logikanya umat yang sedikit dengan amaliyah yg berbeda dengan kebanyakan umat islam di dunia harusnya membuang ego mereka dan fanatisme golongan untuk mengikuti umat yang besar, bukan sebaliknya kan?. Ada beberapa contoh kecil seperti bacaan salam ketika sholat, kita lihat dibelahan dunia manapun yang terbanyak menggunakan salam cukup “assalamu’alaikum warahmatullah”, tanpa ditambahi lafadz “wabarokatuh”, karena secara dalil dari hadits, hampir semua hadits mutawatir menyebutkan tanpa lafadz “wabarokatuh”, kecuali hanya satu hadits dan itu bukan mutawatir. Kenapa dalil yang satu itu tidak kita tinggalkan demi kepentingan yang lebih besar yaitu persatuan ummat Islam. Contoh lain sholat tarawih 20 raka’at, diseluruh dunia mayoritas mengamalkannya, maka yang melaksanakan 8 raka’at seharusnya lah mengikuti umat mayoritas. Apakah kita lupa Ayat Al Qur’an :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

Dan Hadits Nabi :

إِنَّ أُمَّتِي لَنْ تَجْتَمِعَ عَلَى ضَلاَلَةٍ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ اخْتِلاَفًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ اْلأَعْظَمِ فَإِنَّهُ مَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ

 “Sesungguhnya ummatku tidak akan bersatu dalam kesesatan. Maka jika kalian melihat perselisihan, berpeganglah pada As-Sawad Al-A’dzam. Barangsiapa yang menyelisihinya akan terasing di neraka”

-= Wallahu A’lam Bisshowab=-

Selasa, 04 Mei 2021

Memahami Kebaikan dan Keburukan dari Allah SWT

Salah satu rukun iman yang enam adalah iman dengan qodho’ dan qodarnya Allah, ketentuan dari Allah yg berupa kebaikan dan keburukan harus kita terima dengan lapang dada dan penuh kerelaan. Begitulah hakikatnya.

Namun dalam menjalani hidup ini terkadang seseorang yang melakukan kejelekan/kemaksiatan Ketika ditanya kenapa ia melakukannya? Dia menjawab : “bahwa semua itu sudah digariskan/ditaqdirkan Allah SWT. bagaimana aku bisa menghindar?” benarkan pernyataan tersebut? Mari kita kaji lebih dalam lagi.

Manusia hidup di dunia ini dibekali akal, yang mana dengan akal tersebut diberi kemampuan untuk membedakan kebaikan dan keburukan. Tidak hanya akal namun Allah dengan kasih sayang-Nya juga mengutus Nabi untuk mengajarkan aturan-aturan yang dikehendaki Allah. Aturan-aturan itu yang disebut dengan syari’at. sehingga kebaikan dan keburukan adalah apa yang dipandang syari’at. Sementara akal membantu manusia untuk menjalankan syari’at dengan lebih baik.

Berbeda dengan kaum mu’tazilah yang menganggap kebaikan dan keburukan hanya berdasar pandangan akal, kita kaum ahlussunah wal jama’ah mengedepankan syari’at. apa yang dipandang syari’at baik maka itu baik, juga sebaliknya.

Kembali ke pertanyaan diatas bahwa harus diyakini kebaikan dan keburukan hakikatnya datangnya dari Allah. Namun dalam perilaku kita membutuhkan adab kepada Allah. Hal yang buruk tidaklah selayaknya disandarkan kepada Allah yang Maha Suci dan Indah. Maka sering kita dengar mubalig di akhir ceramahnya mengatakan “ bila kalian menemukan kebenaran dalam ucapanku maka itu semata-mata dari Allah, namun bila menemukan kesalahan maka itu karena kebodohanku”.

Harus kita pahami juga bahwa Allah adalah Penguasa Mutlak. Maka tidak ada yg perlu dipertanggungjawabkan atas semua yang dikehendaki Allah, karena label dzolim hanya disematkan kepada makhluq, karena dia akan dimintai pertanggungjawaban. Kalau Allah, siapa yang akan meminta pertanggungjawaban kepada_Nya?.

Dalam sebuah kisah dikisahkan bahwa Iblis menemui Imam Syafi’I r.a dan bertanya : “Ya Imam, apa pendapatmu tentang Allah yang telah menciptakanku sesuai kehendak-Nya, dan membuatku berbuat sesuai kehendak-Nya, lalu setelah itu dengan kehendak-Nya pula memasukkanku ke neraka. Apakah hal tersebut adil menurutmu?.”

Imam Syafi’ipun menjawab : “ Hai Iblis, Justru jika Allah menciptakanmu sesuai yg kau inginkan (bukan yg Allah inginkan) maka Allah malah Dzolim kepadamu,  dan jika Allah membuatmu melakukan apa yang Dia kehendaki, maka Allah tidak bisa dimintai pertanggung jawaban, justru kita makhluknya yang dimintai pertanggungjawaban.

Lalu Iblis berkata : demi Allah Ya Syafi’I, dengan pertanyaanku ini sungguh aku telah menyesatkan 70 ribu ahli ibadah.