Translate

:: Pondok Pesantren Ahlussunah wal Jama'ah An Nahdliyyah::

Senin, 03 Mei 2021

Khouf dan Raja’. Mana yang didahulukan?

Khouf berarti takut/ketakutan yang berasal dari kata Khoofa_Yakhoofu. Adalah keyakinan dalam hati seseorang akan keagungan, kekuatan dan keperkasaan Allah SWT, disertai rasa takut akan dahsyat dan pedihnya siksaan-Nya. Rasa khouf akan menumbuhkan ketakutan dalam diri seseorang untuk melakukan larangan-larangan Allah SWT.

Sedangkan Roja’ adalah husnudzon/prasangka baik kepada Allah yang didasari pengetahuan bahwa Allah SWT itu Maha Penyayang dan Maha Lembut. Roja’ akan menumbuhkan semangat dalam beribadah kepada Allah, maka roja’ laksana penuntun kebaikan dan ketaatan kepada Allah SWT.

Dengan demikian bisa dipahami bahwa khouf dan roja’ tidaklah dapat terpisahkan, karena keduanya adalah sama-sama obat yang manjur untuk hati seseorang yang berpenyakit, yaitu penyakit putus asa dari kasih sayang Allah dan rasa aman dari siksa Allah. Rasa aman dari siksa Allah adalah persaan dalam hati seseorang bahwa Allah tidak akan menyiksa atas dosa-dosa yang telah diperbuatnya.

Ayat tentang jeleknya putus asa dari rahmat Allah adalah surat Yusuf, ayat 78 :

إِنَّهُ لاَ يَايْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ إِلاَّ اْلقَوْمُ اْلكَافِرُوْنَ .

“Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir”

Sedangkan ayat yang menerangkan jeleknya rasa aman dari siksa Allah adalah surat Al-A’raf, ayat 99 :

فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللهِ إِلاَّ اْلقَوْمُ اْلخَاسِرُوْنَ .

“Tidaklah merasa aman dari rekayasa Allah kecuali kaum yang merugi”

Dan dalam sebuah Hadits Qudsi Allah berfirman : “Demi Kekuatan dan Keagungan-Ku, tidaklah mungkin dalam diri hamba-Ku terkumpul dua khouf dan dua rasa aman sekaligus. Karena ketika hamba-Ku takut kepada-Ku di dunia, maka aku akan membuatnya aman di akhirat, begitu pula sebaliknya Ketika hamba-Ku merasa aman dari siksaku waktu di dunia, maka Aku akan menakutinya di akhirat kelak”

Para ‘Ulama berkata : yang terbaik adalah bagi orang yang sudah bisa istiqomah adalah menyelaraskan antara khouf dan raja’. Sehingga keduanya bisa imbang, sama kadarnya dalam dirinya yang bagaikan dua sayap burung. Adapun bagi orang-orang yang masih belum bisa istiqomah dalam beribadah atau orang-orang yang masih sering melakukan maksiat maka sebaiknya rasa khoufnya yang harus ditonjolkan, sehingga mampu membawanya bisa istiqomah dalam beribadah, kecuali bagi orang yang akan mati maka rasa roja’ lah yang seharusnya dikedepankan supaya Ketika dia mati bisa mati dengan perasaan berbaik sangka kepada Allah. Dalam sebuah hadits :

لا يموت أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله تعالى

“janganlah mati salah seorang dari kalian kecuali dalam keadaan berhusnudzon kepada Allah SWT”

Dan Shohabat Ibnu ‘Abbas RA pernah berkata :

إذا رأيتم بالرجل الموت فبشروه ليلقى ربه وهو حسن الظن به ، وإذا كان حيا فخوفوه

“Jika kalian melihat seseorang yang akan mati maka gembirakanlah ia (tentang kasih sayang dan ampunan Allah) supaya Ketika ia mati dalam kondisi berhusnudzon kepada Allah. Tapi jika engkau lihat seseorang itu hidup maka takut-takutilah ia (dengan siksa dan adzab Allah bila melanggar larangan-Nya).

0 komentar:

Posting Komentar