Translate

:: Pondok Pesantren Ahlussunah wal Jama'ah An Nahdliyyah::

Selasa, 04 Mei 2021

Memahami Kebaikan dan Keburukan dari Allah SWT

Salah satu rukun iman yang enam adalah iman dengan qodho’ dan qodarnya Allah, ketentuan dari Allah yg berupa kebaikan dan keburukan harus kita terima dengan lapang dada dan penuh kerelaan. Begitulah hakikatnya.

Namun dalam menjalani hidup ini terkadang seseorang yang melakukan kejelekan/kemaksiatan Ketika ditanya kenapa ia melakukannya? Dia menjawab : “bahwa semua itu sudah digariskan/ditaqdirkan Allah SWT. bagaimana aku bisa menghindar?” benarkan pernyataan tersebut? Mari kita kaji lebih dalam lagi.

Manusia hidup di dunia ini dibekali akal, yang mana dengan akal tersebut diberi kemampuan untuk membedakan kebaikan dan keburukan. Tidak hanya akal namun Allah dengan kasih sayang-Nya juga mengutus Nabi untuk mengajarkan aturan-aturan yang dikehendaki Allah. Aturan-aturan itu yang disebut dengan syari’at. sehingga kebaikan dan keburukan adalah apa yang dipandang syari’at. Sementara akal membantu manusia untuk menjalankan syari’at dengan lebih baik.

Berbeda dengan kaum mu’tazilah yang menganggap kebaikan dan keburukan hanya berdasar pandangan akal, kita kaum ahlussunah wal jama’ah mengedepankan syari’at. apa yang dipandang syari’at baik maka itu baik, juga sebaliknya.

Kembali ke pertanyaan diatas bahwa harus diyakini kebaikan dan keburukan hakikatnya datangnya dari Allah. Namun dalam perilaku kita membutuhkan adab kepada Allah. Hal yang buruk tidaklah selayaknya disandarkan kepada Allah yang Maha Suci dan Indah. Maka sering kita dengar mubalig di akhir ceramahnya mengatakan “ bila kalian menemukan kebenaran dalam ucapanku maka itu semata-mata dari Allah, namun bila menemukan kesalahan maka itu karena kebodohanku”.

Harus kita pahami juga bahwa Allah adalah Penguasa Mutlak. Maka tidak ada yg perlu dipertanggungjawabkan atas semua yang dikehendaki Allah, karena label dzolim hanya disematkan kepada makhluq, karena dia akan dimintai pertanggungjawaban. Kalau Allah, siapa yang akan meminta pertanggungjawaban kepada_Nya?.

Dalam sebuah kisah dikisahkan bahwa Iblis menemui Imam Syafi’I r.a dan bertanya : “Ya Imam, apa pendapatmu tentang Allah yang telah menciptakanku sesuai kehendak-Nya, dan membuatku berbuat sesuai kehendak-Nya, lalu setelah itu dengan kehendak-Nya pula memasukkanku ke neraka. Apakah hal tersebut adil menurutmu?.”

Imam Syafi’ipun menjawab : “ Hai Iblis, Justru jika Allah menciptakanmu sesuai yg kau inginkan (bukan yg Allah inginkan) maka Allah malah Dzolim kepadamu,  dan jika Allah membuatmu melakukan apa yang Dia kehendaki, maka Allah tidak bisa dimintai pertanggung jawaban, justru kita makhluknya yang dimintai pertanggungjawaban.

Lalu Iblis berkata : demi Allah Ya Syafi’I, dengan pertanyaanku ini sungguh aku telah menyesatkan 70 ribu ahli ibadah.

0 komentar:

Posting Komentar